JAKARTA, DISWAY.ID - Amerika Serikat dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua pekan usai sebulan berperang dan berdampak pada pembukaan Selat Hormuz, Rabu, 8 April 2026.
Setelah berperang sejak 28 Februari 2026, angin segar pun berhembus di Timur Tengah.
BACA JUGA:Kapal Tanker Malaysia Lewati Selat Hormuz, 2 Kapal Indonesia Masih Parkir di Selat Oman
BACA JUGA:Eddy Soeparno Sebut Iran Proses Izin Kapal Tanker Pertamina Melintasi Selat Hormuz
Selat paling strategis di dunia yang menjadi arus perdagangan minyak dunia itu bisa beroperasi normal meski hanya 2 minggu m
Gencatan senjata ini tercapai usai Presiden Donald Trump menunda serangan ke Iran selama dua pekan. Bergaining-nya, Iran siap membuka Selat Hormuz.
Lantas, apakah konflik yang mereda ini berdampak baik pula pada perdagangan minyak mentah dunia?
Mengutip pernyataan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, pihaknya berjanji bakal menghentikan pergerakan Angkatan Bersenjata untuk melakukan agresi.
BACA JUGA:Harga Minyak Dunia Terjun Bebas Pasca Amerika Setujui 10 Syarat Iran
"Kami bakal memerintahkan Angkatan Bersenjata untuk menghentikan operasi defensifnya," ujarnya.
Araghchi juga menuturkan pembukaan Selat Hormuz tak dilakukan serta merta. Pihaknya akan wait and see sembari melakukan koordinasi dan mempertimbangkan keterbatasan teknis.
"Selama periode dua minggu itu juga, jalur aman melalui Selat Hormuz akan dimungkinkan melalui koordinasi dengan angkatan bersenjata Iran serta dengan mempertimbangkan keterbatasan teknis," tambah Araghchi.
Kesepakatan gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz.
BACA JUGA:Iran Umumkan Kemenangan Atas Amerika, Ancaman Bumi Hangus Trump Hanya Omon-omon
Iran menyatakan bahwa pembukaan jalur paling strategis Dunia itu tidak dilakukan sepenuhnya otomatis. Araghchi menyebut sikap Iran akan bergantung pada ketentuan dalam kesepakatan gencatan senjata.
- 1
- 2
- »





