Iran mengumumkan telah memberikan 10 poin proposal syarat perdamaian kepada Amerika Serikat (AS) untuk menghentikan konflik di kawasan yang sudah berlangsung selama lebih dari sebulan ini. Pada proposal tersebut, terdapat poin yang menyebut bahwa AS harus menyetujui program pengayaan uranium Iran dan mengangkat semua sanksi atas negeri tersebut.
"Kontrol Iran yang berkelanjutan di Selat Hormuz, menyetujui pengayaan uranium, serta mengangkat semua sanksi primer dan sekunder," kata Majelis Keamanan Nasional Tertinggi dalam statementnya, dilansir AFP, Rabu (8/4).
Program pengayaan uranium sendiri penting untuk pengembangan nuklir Iran. Ini adalah hal yang sejak awal jadi masalah bagi AS.
Iran yang mengeklaim jeda konflik ini sebagai suatu kemenangan telah menyerahkan proposal ini lewat mediator di Pakistan. Selain 3 poin tersebut, Iran juga punya sejumlah poin yakni; militer AS harus angkat kaki dari Timur Tengah, mengakhiri serangan ke sekutu-sekutu Iran, membebaskan semua aset Iran yang dibekukan dan membuat sebuah resolusi Dewan Keamanan PBB sehingga kesepakatan itu bisa mengikat.
"Perlu dicatat, jika proposal ini disepakati, perlu diadopsi lewat sebuah resolusi yang mengikat di bawah hukum internasional, dan akan jadi sebuah kemenangan diplomatik bagi Iran," kata Majelis Keamanan Nasional Tertinggi Iran.
Perlu dicermati, rencana Iran ini juga memuat soal kontrol Selat Hormuz yang sudah diblokade selama 5 pekan sejak konflik berlangsung. Padahal, selat ini begitu krusial karena menyuplai seperlima dari kebutuhan minyak bumi dunia.
Proposal ini diumumkan ke publik, setelah Pakistan menggunakan kesempatannya, di beberapa menit terakhir sebelum Presiden Donald Trump berniat 'menghancurkan peradaban Iran'.
Trump yang berbicara kepada PM Sharif Shehbaz akhirnya sepakat, dan menunda serangan. Ia sepakat untuk menunda perang selama 2 pekan.
"Pada dasarnya, kesepakatan ini berpeluang tercapai untuk negosiasi," kata Trump.





