Jakarta, VIVA – Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi menyampaikan, pemerintah berencana membangun proyek water taxi atau taksi perairan di Bali, dengan nilai investasi awal mencapai Rp 2,1 trilliun.
Dia memperkirakan, proyek yang bertujuan untuk mengurai kepadatan lalu lintas di sejumlah kawasan pariwisata Bali itu, rencananya akan mulai masuk ke tahap konstruksi pada Agustus 2026.
"Estimasi anggaran yang dibutuhkan untuk komponen investasi awal adalah sebesar Rp 1,21 triliun," kata Dudy dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi V DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu, 8 April 2026.
- VIVA.co.id/Maha Liarosh (Bali)
Dia menjelaskan, proyek water taxi ini diusung dengan konsep sebagai moda transportasi berbasis laut, yang menghubungkan sejumlah lokasi strategis pariwisata utama di Bali. Cakupannya yakni dari kawasan Bandara I Gusti Ngurah Rai hingga ke wilayah Canggu.
Dudy menambahkan, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) yang telah ditunjuk sebagai operator water taxi, saat ini masih menyusun studi pra-desain dan studi kelayakan sebelum masuk ke penyusunan detail engineering design (DED).
"ASDP yang nantinya akan mengoperasikan water taxi, saat masih dalam proses usulan studi DED. Rencananya, pekerjaan konstruksi akan mulai dilaksanakan pada bulan Agustus 2026 hingga Juli 2027," ujar Dudy.
Dengan adanya water taxi, diharapkan waktu tempuh dari Bandara I Gusti Ngurah Rai menuju kawasan Canggu via darat, yang selama ini butuh satu sampai dua jam, bisa dipangkas menjadi 30 menit.
"Karena kawasan Canggu itu termasuk dalam tiga besar destinasi wisata dengan minat tertinggi, baik bagi wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara di Bali," kata Dudy.
Karenanya, guna menjamin aspek keamanan pelayaran, Dudy mengatakan bahwa desain proyek water taxi juga akan dilengkapi dengan pembangunan penahan gelombang (breakwater). Utamanya yakni pada titik-titik dengan karakter perairan yang tergolong ekstrem, seperti misalnya di kawasan Pantai Sekeh di Bandara Ngurah Rai serta di Pantai Berawa, Canggu.
Dudy berharap, water taxi ini dapat mengefisienkan mobilitas para wisatawan dan masyarakat di Bali, supaya langkah mengurangi kemacetan di sejumlah destinasi wisata bisa diatasi secara optimal.
"Jadi kami juga terus melakukan sejumlah langkah percepatan, yakni mulai dari penyelesaian studi hingga penyusunan desain teknis agar implementasi proyek ini tepat waktu," ujarnya.





