VIVA –Amerika Serikat dan Iran sepakat untuk melakukan gencatan senjata bersyarat selama dua minggu. Kesepakatan ini terjadi setelah adanya intervensi diplomatik mendadak yang dipimpin oleh Pakistan.
Pengumuman soal gencatan senjata ini disampaikan kurang dari dua jam sebelum batas waktu yang Trump tetapkan yakni pukul 20.00 waktu AS untuk melancarkan serangan terhadap pembangkit listrik dan jembatan di Iran.
Menyusul dengan kesepakatan gencatan senjata ini, dorongan diplomasi yang dilakukan Pakistan mendapat sorotan. Lantas bagaimana Iran dan AS memercayakan Pakistan hingga akhirnya terjadi kesepakatan gencatan senjata bersyarat selama dua pekan?
Melansir laman NDTV, Rabu 8 April 2026, kesepakatan yang terjalin diantara kedua negara itu tak lepas dari diplomasi yang dijalankan secara cermat oleh Wakil Presiden AS JD Vance, Menteri Luar Negeri Iran Araghchi, dengan mediasi dari Panglima Angkatan Darat Pakistan Asim Munir.
Sejak akhir Maret, Islamabad memang aktif mendorong perdamaian di kawasan Teluk. Pada 29 Maret, Pakistan menjadi tuan rumah pertemuan para menteri luar negeri dari Turki, Arab Saudi, dan Mesir untuk mencari jalan keluar dari konflik di Timur Tengah.
Ketika perang terus berlarut, Pakistan muncul sebagai mediator kunci dalam komunikasi tidak langsung antara pihak-pihak yang bertikai, saat Washington dan Teheran sama-sama mencari jalan keluar. Pakistan lah yang menyampaikan proposal 15 poin dari AS kepada Iran, lalu meneruskan tanggapan Iran kembali ke Washington.
Kenapa AS dan Iran Sama-Sama Percaya Pakistan?
Agar bisa menjadi mediator, sebuah negara harus dipercaya oleh kedua pihak. Iran saat ini kurang mempercayai negara-negara Arab tetangganya karena kedekatan mereka dengan AS. Bahkan, Teheran sempat menyerang negara-negara Teluk sebagai balasan atas serangan udara AS-Israel.
Pakistan sendiri berbatasan langsung dengan Iran dan memiliki hubungan diplomatik yang cukup erat. Hal ini terlihat dari cara Araghchi menyebut Sharif dan Munir sebagai ‘saudara tercinta’. Selain itu, Pakistan juga tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel karena isu Palestina, yang menjadi alasan tambahan bagi Iran untuk mempercayainya.
Di sisi lain, hubungan AS dan Pakistan membaik sejak tahun lalu. Islamabad juga bergabung dalam Dewan Perdamaian yang dibentuk Trump untuk mendorong stabilitas di Gaza. Trump bahkan pernah menyebut Munir sebagai Panglima favoritnya. Munir disebut memiliki jaringan kuat di kalangan pertahanan AS dan Iran, yang memberi Pakistan keunggulan dalam proses negosiasi.





