KOMPAS.com - Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera terus mendorong penyaluran aneka bantuan sosial (bansos) untuk menopang kehidupan penyintas bencana banjir dan longsor di Provinsi Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar).
Bansos yang disalurkan terdiri dari bantuan jaminan hidup (jadup), bantuan isi hunian (BIH), serta bantuan stimulan sosial dan ekonomi (BSSE).
Paket bantuan tersebut disalurkan untuk mendukung percepatan pemulihan sekaligus membantu pemenuhan kebutuhan ekonomi penyintas bencana.
Data laporan harian Satgas PRR per 6 April 2026 mencatat penyaluran bantuan jadup, BIH, dan BSSE telah menjangkau 60.373 dari 66.008 jiwa penerima, dengan total dana tersalurkan mencapai Rp483.959,85 miliar.
Baca juga: Realisasi Bantuan Jadup Terus Meningkat, Jadi Penunjang Hidup Penyintas Bencana
Provinsi Aceh mencatatkan realisasi tertinggi dengan penyaluran menjangkau 47.483 jiwa dan total dana tersalurkan mencapai Rp366.298 miliar.
Di Sumut, bantuan telah menjangkau 11.091 jiwa dengan total dana mencapai Rp101.371,3 miliar. Adapun di Sumbar, bantuan telah menjangkau 1.799 jiwa dengan total dana tersalurkan mencapai Rp16.290,550 miliar.
Sebagai informasi, bantuan jadup senilai Rp15.000 disalurkan per jiwa per hari selama tiga bulan.
Sementara itu, BIH disalurkan dengan skema senilai Rp3 juta per kepala keluarga. Adapun BSSE diberikan senilai Rp5 juta per keluarga.
Baca juga: Satgas PRR Salurkan Bantuan ke Aceh Tamiang, Fokus Penuhi Kebutuhan Dasar Warga
Bantuan jadup, BIH, dan BSSE merupakan skema bantuan pascabencana yang diberikan untuk menjamin keberlangsungan hidup penyintas bencana.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan proses pemulihan tidak hanya menyentuh infrastruktur fisik, tetapi juga daya beli masyarakat yang harus pulih pascabencana.
Untuk melengkapi kebutuhan dasar penyintas bencana, Satgas PRR juga menggelontorkan bantuan dana tunggu hunian (DTH) bagi penyintas bencana yang tidak memilih tinggal di hunian sementara (huntara).
Bantuan DTH sebesar Rp600.000 dikucurkan per bulan dalam jangka waktu tiga bulan, sehingga setiap kepala keluarga menerima total dana sebesar Rp1,8 juta.
Baca juga: Percepatan Huntara dan Penyaluran DTH Jadi Strategi Kunci Satgas PRR Relokasi Pengungsi
Hingga saat ini, seluruh rekening penerima DTH telah menerima transfer dana dengan tingkat penyaluran mencapai 100 persen untuk 14.775 penerima di tiga provinsi, terdiri dari 8.709 penerima di Aceh, 4.162 penerima di Sumut, dan 1.904 penerima di Sumbar.
Ketua Satuan Tugas (Kasatgas) PRR Pascabencana Sumatera Muhammad Tito Karnavian mengatakan, aneka bantuan tersebut disalurkan secara paralel kepada penyintas bencana seiring pembangunan hunian layak yang terus berjalan.
Pernyataan tersebut disampaikan Tito saat mengunjungi Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Sabtu (4/4/2026).
Ia menjelaskan bahwa selama hunian tetap (huntap) belum rampung dibangun, penyintas bencana akan mendapat bantuan lauk pauk Rp15.000 per orang per hari selama tiga bulan.
Baca juga: Kemensos Beri Bantuan Lauk-Pauk Rp 15.000 per Hari Selama 3 Bulan untuk Korban Bencana Sumatera
Skema penyaluran bantuan tersebut disesuaikan dengan target pembangunan huntap yang memakan waktu sekitar tiga sampai empat bulan.
"Selama huntap belum jadi, masyarakat jangan khawatir, karena huntara kan ada. Nanti dana uang lauk pauk sebesar Rp15.000 per orang per hari tetap jalan terus. Kalau huntap belum jadi (dalam) tiga bulan, tetap saja akan (dilanjutkan) diberikan," kata Tito dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Rabu (8/4/2026).
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



