BOGOR, KOMPAS.com — Yuana Mutiara Zahra (18), siswi asal Kota Bogor, berhasil diterima di 12 perguruan tinggi luar negeri dan memperoleh beasiswa dari pemerintah Rusia.
Yuana mengaku keinginannya kuliah di luar negeri berawal dari hal sederhana, yakni ingin merasakan naik pesawat.
"Aku dulu enggak pernah naik pesawat kan, terus aku tuh kayak pengin banget naik pesawat dan pengin banget ke luar negeri. Sebenarnya sesimpel itu," kata Yuana saat ditemui Kompas.com di Mal Botani Square, Kota Bogor, Rabu (8/4/2026).
Ia kemudian mencoba mewujudkan keinginannya dengan mencari peluang secara mandiri.
Baca juga: Pemerintah Diminta Kaji Usulan Perubahan Syarat TOEFL LPDP agar Akses Beasiswa Tetap Inklusif
"Cuma gimana caranya aku bisa ngelakuin itu sendiri? Oke, aku ngasih limit sendiri. Ya udah, aku cari peluang di mana aku bisa ngelakuin hal itu," tuturnya.
Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), Yuana sudah bercita-cita melanjutkan pendidikan ke luar negeri, bahkan sempat menyasar beasiswa di Turki.
Namun, saat menempuh pendidikan di pesantren pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), keterbatasan akses informasi membuat mimpinya sempat terpendam.
"Waktu SMP tuh aku pesantren dan ada banyak keterbatasan informasi, akhirnya aku kayak ya sudah terpaksa ngubur mimpi gitu aja," jelasnya.
Saat melanjutkan ke jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) di Serpong, Yuana mulai kembali mengejar mimpinya dengan memanfaatkan keterbukaan informasi, terutama dari media sosial.
Meski demikian, ia sempat merasa minder dengan lingkungan sekolah yang dinilai memiliki tingkat persaingan akademik tinggi.
Menyadari hal tersebut, Yuana mengaku sempat merasa tidak mampu mengimbangi teman-temannya hingga hampir mengurungkan niat kuliah ke luar negeri.
Baca juga: Bahlil: Beasiswa LPDP Harus Mengalir ke Santri, Belum Tentu Siswa Sekolah Umum Lebih Hebat
Namun, saat duduk di kelas 12, tekad itu kembali muncul.
"Masa yakin nih enggak mau ambil sesuatu yang kamu belum coba? Tapi kamu udah mundur gitu aja," ujarnya.
Yuana pun mulai melakukan konsultasi dengan guru Bimbingan Konseling (BK) untuk memperbaiki nilai rapor dan mempersiapkan diri.
"Pertamanya, aku research dulu mau masuk ke mana nih yang kira-kira masih value aku tuh nyampe buat luar negeri, karena sebenarnya enggak harus sepintar itu buat kuliah di luar negeri asalkan kita pintar cari peluangnya," tutur Yuana.





