Abdur Rozaki jadi Guru Besar UIN Suka, Dorong Model Kewarganegaraan Inklusif

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Abdur Rozaki dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Islam dan Etnisitas Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN Suka) Yogyakarta, pada Rabu (8/4).

Dalam pidato berjudul “Islam, Etnisitas dan Dinamika Keindonesiaan Kita: Problema, Tantangan dan Proyeksi Membangun Indonesia Emas”, ia menyinggung pentingnya model kewarganegaraan inklusif dalam mengelola keragaman Indonesia.

Dalam pidatonya, Rozaki mengangkat pertanyaan tentang cara Indonesia mengelola keberagaman yang mencakup 1.340 suku bangsa, ribuan pulau, dan beragam latar belakang sosial agar tetap berkelanjutan.

Ia menyatakan model kewarganegaraan inklusif lebih sesuai bagi Indonesia karena mampu menghadirkan keadilan dan akses setara bagi seluruh kelompok masyarakat.

“Model kewarganegaraan inklusif lebih cocok untuk bangsa Indonesia yang memiliki keragaman etnik dan agama karena mampu merepresentasikan keadilan, dan akses yang setara bagi semua kelompok sosial di masyarakat,” kata Rozaki, Rabu (8/4).

Menurutnya, model ini juga dinilai lebih efektif dalam mencegah konflik sosial dibandingkan pendekatan di sejumlah negara lain. Ia mencontohkan Malaysia dan Brunei yang menerapkan rezim etnocratic welfare dengan memberikan keistimewaan pada etnis tertentu, serta Pakistan yang menempatkan ideologi Islam sebagai pusat negara.

Rozaki menambahkan, penerapan model inklusif secara konsisten dapat membantu memulihkan ketidakadilan yang pernah dialami masyarakat, baik akibat kebijakan negara maupun konflik horizontal.

“Model kewarganegaraan inklusif jika diterapkan secara konsisten dapat mengobati luka-luka warga masyarakat yang di masa lalu mengalami ketidakdilan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa dalam kerangka negara inklusif, praktik sektarianisme, prasangka etnik, dan diskriminasi tidak semestinya mendapat ruang.

“Dengan formula institusi dan prinsip kenegaraan inklusif, berbagai anasir sektarian, prasangka etnik dan diskriminasi etnik, sudah semestinya tidak mendapatkan tempat di Indonesia,” kata Rozaki.

Lebih lanjut, ia memproyeksikan masa depan di mana identitas keislaman tidak dipertentangkan dengan identitas etnis maupun kebangsaan. Menurutnya, nilai-nilai keislaman justru dapat menjadi kekuatan untuk menjaga keberagaman di tengah arus globalisasi.

“Kita membayangkan ke depan, di mana identitas keislaman tidak lagi dipertentangkan dengan identitas etnis dan identitas kebangsaan,” ujarnya.

Rozaki juga menekankan pentingnya dialog antar kelompok berbasis etnis dalam memperkuat budaya multikultural dan pergaulan inklusif di masyarakat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rumah Ibadah Tesalonika Dibuka Kembali, Seruan Toleransi Menguat
• 17 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Pendidikan Terintegrasi di Banjarbaru Ciptakan Pembelajaran Berkelanjutan
• 45 menit lalurepublika.co.id
thumb
Kejagung Sita Gedung, Batubara, hingga Puluhan Alat Berat Milik Samin Tan
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Hasil Sporting vs Arsenal: Gol Telat Kai Harvertz Bawa The Gunners Curi Tiga Poin
• 19 jam lalumedcom.id
thumb
Satpol PP dan Dinkes Bangka Temukan Peredaran Obat Ilegal di Toko Kelontong
• 4 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.