Targetkan Laba US$3 Juta, Begini Strategi Latinusa (NIKL)

wartaekonomi.co.id
6 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL) menargetkan kinerja 2026 tumbuh dengan penjualan mencapai US$160 juta dan laba bersih sekitar USD3 juta, di tengah tekanan impor dan dinamika industri baja global yang masih fluktuatif.

Direktur Utama NIKL Jetrinaldi mengatakan target tersebut mencerminkan optimisme perseroan setelah berhasil membalikkan kinerja dari rugi menjadi laba pada 2025.

“Target penjualan kami di tahun 2026 ini secara nilai, lebih kurang USD160 juta. Sementara itu, target laba (bersih) lebih kurang US$3 juta,” ujarnya dalam paparan publik, Rabu (8/4/2026).

Pada 2025, NIKL mencatat laba bersih sebesar US$973,39 ribu, berbalik dari rugi US$18,85 ribu pada 2024. Perbaikan ini terjadi di tengah penurunan penjualan 10,21% menjadi US$139,83 juta akibat tekanan impor tin plate dari China dan Korea Selatan. 

Selain itu, data paparan publik menunjukkan pangsa pasar NIKL turun dari 59,71% pada 2024 menjadi 55,69% pada 2025, sementara porsi impor meningkat menjadi 44,31%. 

Menghadapi kondisi tersebut, perseroan menyiapkan strategi efisiensi dan penguatan daya saing untuk mencapai target 2026. Jetrinaldi mengatakan perusahaan akan melanjutkan pendekatan yang diterapkan pada 2025, terutama dalam pengendalian biaya dan manajemen risiko.

“Kami melakukan optimalisasi biaya dari hulu hingga hilir, mulai dari pengadaan bahan baku, proses produksi, hingga pengendalian beban keuangan dan risiko nilai tukar,” jelasnya.

Strategi tersebut mencakup pengendalian beban bunga, efisiensi operasional, serta penerapan lindung nilai (hedging) untuk menekan dampak fluktuasi kurs, mengingat struktur biaya bahan baku yang masih didominasi impor.

Di sisi lain, perseroan melihat peluang dari dinamika global. Kenaikan harga plastik dan biaya logistik internasional akibat konflik geopolitik mendorong pergeseran permintaan ke produk tinplate sebagai alternatif kemasan.

Kondisi tersebut juga memperlemah daya saing produk impor, sehingga memberikan ruang bagi produsen domestik untuk meningkatkan penetrasi pasar.

Dari sisi permintaan, kontribusi segmen susu meningkat dari 25,51% menjadi 27,59% pada 2025, seiring pemulihan konsumsi minuman siap minum. Sementara itu, segmen makanan kering mengalami penurunan akibat perubahan preferensi konsumen terhadap kemasan.

Untuk mendukung ekspansi 2026, NIKL mengalokasikan belanja modal (capex) sebesar US$2,1 juta yang difokuskan pada peningkatan keandalan pabrik dan kualitas produk.

Baca Juga: Diakuisisi MTA, Laba IRSX Melonjak 4.700% Jadi Rp25 Miliar

Baca Juga: PTBA Kantongi Laba Bersih Rp2,93 Triliun di 2025

Baca Juga: Industri Pintu Baja Naik Kelas, JBS Perkasa Gaspol Ekspansi

Perseroan juga mencatat kinerja kuartal I/2026 menunjukkan perbaikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, memberikan indikasi awal terhadap potensi pencapaian target tahunan.

Meski demikian, manajemen tetap mencermati tekanan dari impor dan kondisi industri yang masih kompetitif. Dengan permintaan nasional tinplate yang diperkirakan stabil di kisaran 200 ribu ton, NIKL menilai strategi efisiensi dan mitigasi risiko menjadi kunci untuk menjaga pertumbuhan kinerja sepanjang 2026.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Fenomena Joki Skripsi Kian Marak, Pengamat Sebut Cerminan Kegagalan Sistem Pendidikan Tinggi
• 6 jam lalukompas.com
thumb
Kemensos Sosialisasikan DTSEN kepada 390 Peserta di Sidrap
• 23 jam lalurepublika.co.id
thumb
Prabowo: Kalau Terjadi Perang Dunia III, Indonesia Termasuk Negara Aman
• 4 jam laluliputan6.com
thumb
Tamparan Keras untuk Timnas Indonesia, Media Vietnam Heboh Pamer Ranking Liga, Super League Tertinggal Jauh
• 23 jam lalutvonenews.com
thumb
Kenaikan Harga Kantong Plastik Diakui Pedagang, Penjual Sayur di Kulon Progo Andalkan Edukasi ke Pembeli
• 7 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.