JAKARTA, KOMPAS.TV – Gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran belum tentu menjadi jalan menuju perdamaian.
Di balik jeda sementara ini, para analis justru melihat konflik masih sangat cair dan berpotensi bergerak ke berbagai arah—dari damai cepat hingga perang berkepanjangan.
Peneliti senior keamanan Indo-Pasifik, Aisha Kusumasomantri menilai, arah konflik ke depan sangat ditentukan oleh kombinasi faktor ekonomi, politik, hingga dinamika aktor regional.
Baca Juga: AS Dinilai Terpojok tapi Menang Taktis atas Iran, Pakar: Gencatan Senjata Hanya “Tactical Pause”
Aisha menyoroti pola komunikasi Presiden Donald Trump yang kerap berdampak langsung pada pasar global.
Menurutnya, setiap kali harga minyak naik dan pasar saham melemah, Trump cenderung mengeluarkan pernyataan yang berbalik arah, sehingga harga minyak turun dan pasar kembali menguat.
“Nah, ini kan tren yang sebenarnya tidak biasa di dalam keadaan perang. Dan kita sebenarnya saat ini masih menebak-nebak nih di mana sebenarnya tujuan dari Trump ke depannya,” ujarnya dalam dialog Kompas Petang, Rabu (8/4/2026).
Gencatan senjata ini dinilai menguntungkan kedua pihak dalam jangka pendek.
Bagi Amerika Serikat, jeda ini memberikan waktu untuk menekan harga energi dan menjaga stabilitas ekonomi global.
Termasuk sektor penting seperti pupuk berbasis nitrogen dan material industri seperti helium yang berperan dalam produksi semikonduktor.
Sementara itu, Iran memanfaatkan jeda untuk merapikan kembali strategi dan memperkuat kapasitas militernya setelah mengalami tekanan signifikan dalam beberapa hari terakhir.
Israel Tidak Terlibat, Risiko Sabotase TerbukaSalah satu celah terbesar dalam gencatan senjata ini adalah tidak dilibatkannya Israel secara penuh dalam kesepakatan.
Menurut Aisha, hal ini membuka kemungkinan terjadinya sabotase atau eskalasi baru yang dapat menggagalkan proses perdamaian.
Baca Juga: Kemlu RI: Indonesia Sambut Baik Gencatan Senjata Iran dan AS
“Tetapi ini kita juga harus waspada apakah di masa depan nanti akan ada sabotase-sabotase yang dilakukan oleh Israel atau bahkan worst case scenario itu adalah kemudian mundurnya Amerika Serikat karena tadi ya pengaruh dan tekanan diplomatik dari Israel," paparnya.
Aisha menilai Washington, khususnya Trump, sedang mencari exit strategy dari konflik tanpa terlihat kalah secara politik.
Penulis : Rizky L Pratama Editor : Deni-Muliya
Sumber : Kompas TV
- skenario perang Iran AS 2026
- prediksi konflik Iran AS
- ceasefire Iran AS analisis
- Trump strategi perang ekonomi
- konflik Iran Israel terbaru
- geopolitik Timur Tengah 2026





