JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, perekonomian Indonesia berada dalam kondisi yang baik saat ini, hanya kalah dari India di jajaran negara G20.
"Secara nasional kondisi perekonomian kita baik dan perekonomian kita di antara negara G20 hanya lebih rendah dari India dengan pertumbuhan di kuartal keempat ke 5,39 persen," kata Airlangga di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (8/4/2026) malam.
Baca juga: Bahlil: Tekanan Ekonomi Mirip Masa Covid, Pemerintah Tahan Kenaikan BBM
Ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,39 persen secara tahunan (year on year/YoY) di kuartal IV-2025.
Ia menuturkan, kondisi perekonomian diprediksi akan terus membaik. Ketahanan pangan di dalam negeri juga relatif kuat dengan besarnya produksi besar dan cadangan pangan utama itu di gudang Bulog.
Berdasarkan pemaparannya, stok beras di gudang Bulog kini mencapai 4,6 juta ton.
"Dan juga ditambah untuk energi dari Kementerian ESDM, kita sudah menyepakati per 1 Juli B50 (biodiesel), di mana itu meningkatkan ketahanan anggaran dari saving sebesar Rp 158 triliun," beber Airlangga.
Baca juga: Rupiah Sentuh Rp 17 Ribu, Akankah Terus Tertekan atau Menguat? Ini Penjelasan Profesor Ekonomi
Di sisi lain kata Airlangga, Presiden Prabowo Subianto berkomitmen menjaga rasio utang di bawah sasaran.
Rasio utang tersebut ditekan pada level 40 persen, sekitar 20 persen lebih rendah dari batas aman yang diatur dalam Undang-Undang (UU) Keuangan Negara.
"Bapak Presiden tadi komit bahwa rasio utang dijaga di level 40 persen walaupun Undang-Undang menyiapkan sampai 60 persen. Demikian pula juga budget deficit dijaga di level 3 persen, dan ini akan dijaga sampai dengan akhir tahun," jelas Airlangga.
Baca juga: Rasio Utang RI Tembus 40,46 Persen dari PDB, Purbaya Pastikan Aman
Di sisi lain, Airlangga juga memaparkan harga komoditas yang berpotensi menurun pasca AS dan Iran sepakat memberlakukan gencatan senjata selama dua minggu ke depan.
Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) diperkirakan pada level 96,7 dollar AS per barrel, sementara harga mintak Brent di kisaran 95,23 dollar AS per barrel.
"Kelapa sawit juga turun sedikit namun masih di angka 1.192," tandas Airlangga.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




