REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN— Pada momen yang sangat sensitif dan saat kawasan tersebut berada di ambang konfrontasi terbuka, pengumuman penangguhan serangan AS terhadap Iran selama dua pekan menciptakan realitas baru.
Realitas tersebut mengubah dinamika politik dan militer, serta membuka peluang bagi jalur negosiasi yang difasilitasi oleh Islamabad, di tengah keraguan mendalam mengenai hasilnya.
Baca Juga
7 Fakta Seputar Gencatan Senjata Sementara Antara AS dan Iran
Di Tengah Sensor Ketat, Beredar Rekaman CCTV Rudal Iran Hantam Israel Secara Presisi
AS dan Iran Gencatan Senjata Sementara, Apa Dampaknya Bagi Israel dan yang Terjadi Kini?
Perubahan mendadak ini terjadi, menurut berbagai sumber, kurang dari batas waktu yang ditetapkan oleh Presiden AS Donald Trump untuk opsi-opsi eskalasi maksimum.
Ini sebelum dia mengumumkan melalui platformnya penangguhan serangan tersebut, dengan syarat pembukaan Selat Hormuz, yang ditanggapi oleh Teheran dengan sinyal-sinyal awal.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Dalam konteks ini, Direktur Kantor Aljazeera di Teheran, Nuruddin Al-Daghir, menjelaskan pemilihan Ketua Parlemen Iran, Baqir Qalibaf, sebagai ketua delegasi negosiasi mencerminkan peralihan negosiasi dari sifat diplomatik tradisional ke tingkat keamanan militer langsung, mengingat latar belakangnya di Korps Garda Revolusi.
Al-Daghir mencatat bahwa kehadiran Qalibaf, sebagai tokoh berpengaruh dan berwenang mengambil keputusan, memberikan momentum lebih besar pada negosiasi dan memperkuat peluang penyelesaian.
Terutama karena Teheran sebelumnya menunjukkan keraguan terhadap tingkat perwakilan Amerika dalam putaran-putaran sebelumnya.
Dia menambahkan sikap hati-hati Iran bukanlah sekadar formalitas, melainkan lebih berfokus pada latar belakang tokoh-tokoh yang mewakili Washington dalam putaran-putaran sebelumnya.
Warga berkumpul di Teheran,ketika tersiar kabar tentang gencatan senjata dua minggu dalam perang AS-Israel melawan Iran, Rabu (8/4/2026). - ( Majid Asgaripour/WANA via Reuters)