Duta Besar Uni Emirat Arab untuk Indonesia, Abdulla Salem AlDhaheri, menyebut narasi yang menyatakan serangan Iran ke negara tetangga di Timur Tengah sebagai konflik agama tidak tepat.
Sebelum gencatan senjata, Iran menyerang sejumlah negara tetangganya usai diserang terlebih dulu oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel pada 28 Februari lalu. UEA menjadi salah satu sasaran.
Pemerintah Iran mengatakan serangan mereka menargetkan pangkalan militer AS di beberapa negara Teluk.
Menurut AlDhaheri, terdapat pihak-pihak di Iran yang mencoba membingkai konflik yang terjadi di Timur Tengah sebagai perang agama. Dia menekankan hal itu tidak tepat.
“Oleh karena itu, izinkan saya menegaskan satu hal dengan sangat jelas, ini bukan konflik agama,” ujar AlDhaheri di kediamannya di Jakarta, Rabu (8/4).
“Upaya untuk membingkai konflik ini sebagai perang agama adalah menyesatkan dan tidak mencerminkan realitas yang terjadi. Ini adalah persoalan keamanan, kedaulatan, dan hukum internasional, bukan agama,” sambung dia.
AlDhaheri kemudian menjelaskan bahwa serangan Iran mayoritas mengarah ke negara yang tidak memulai konflik. Hanya sedikit yang menargetkan Israel.
“Statistik terbaru menunjukkan bahwa sekitar 85% rudal dan drone Iran diluncurkan ke arah negara-negara GCC dan Yordania, sementara hanya sekitar 15% yang menargetkan Israel,” ucap dia.
“Berdasarkan realitas ini, saya mengajak seluruh negara di dunia Islam, termasuk Republik Indonesia dan rakyatnya yang ramah, untuk menilai situasi di Timur Tengah secara seimbang, tanpa dipengaruhi oleh narasi emosional yang bertentangan dengan fakta,” ujarnya.
Menambahkan pernyataan AlDhaheri, Dubes Bahrain untuk Indonesia, Ahmed Abdulla Alhajeri, mengungkap serangan Iran tidak sepenuhnya menargetkan sasaran militer. Ada serangan Iran yang mengenai fasilitas sipil.
“Agresi Iran terhadap negara-negara GCC dan Kerajaan Hashemite Yordania tidak hanya menargetkan lokasi operasi militer yang tidak aktif, tetapi juga infrastruktur sipil vital dengan lebih dari seribu drone dan ratusan rudal. Ini termasuk rumah, hotel, pusat perbelanjaan, pelabuhan, bandara, fasilitas desalinasi air dan energi, serta misi diplomatik dan konsuler,” ucap Alhajeri.
“Agresi ini mengakibatkan korban jiwa di negara-negara GCC dan Kerajaan Hashemite Yordania, ratusan orang terluka dan cedera, serta menyebabkan kerusakan material dan struktural yang signifikan pada fasilitas umum,” tegas dia.





