Jakarta, VIVA – Film horor Indonesia kembali menghadirkan warna baru lewat proyek bertajuk Ain yang mengusung konsep tak biasa: perpaduan drama dan body horror dengan sentuhan isu spiritual “evil eye” atau ain. Menariknya, sebelum resmi tayang di dalam negeri, film Ain justru lebih dulu mencuri perhatian pasar internasional.
Produser Raam Punjabi mengungkapkan bahwa sejumlah negara telah menunjukkan minat besar terhadap film tersebut, bahkan tanpa melihat materi promosi apa pun. Hal ini menjadi sinyal kuat bahwa tema yang diangkat memiliki daya tarik lintas budaya. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!
“Film ini diminta ditayangkan tanpa baca sinopsis, tanpa lihat poster, tanpa lihat trailer. Berarti ‘Ain’ sudah terkenal,” ujar Raam Punjabi saat konferensi pers di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, Rabu 8 April 2026.
Beberapa negara di Asia Tenggara seperti Malaysia dan Kamboja menjadi yang pertama menunjukkan ketertarikan. Namun yang lebih mengejutkan, Rusia juga ikut mengajukan permintaan penayangan lebih awal. Fenomena ini membuat Raam semakin optimistis bahwa film tersebut mampu menembus pasar global.
“Semangat saya tambah waktu Rusia minta film ini ditayangkan lebih dulu. Kita tahu di Rusia agamanya tidak kental dengan Islam, tapi mereka tahu apa itu evil eye," bebernya.
"Itu yang membuat saya lebih yakin film ini bisa jadi hiburan sekaligus edukasi,” lanjut Raam Punjabi.
Dibintangi oleh Putri Ayudya dan Fergie Brittany, film ini tak hanya mengandalkan elemen horor visual, tetapi juga menggali sisi psikologis manusia—terutama tentang rasa iri yang bisa membawa dampak negatif bagi orang lain.
Fergie Brittany yang memerankan karakter Joy mengaku langsung tertarik sejak awal mendengar konsep film ini. Genre body horror yang ditawarkan menjadi daya tarik tersendiri baginya.
“Aku sih senang banget ya bisa mendapatkan kepercayaan untuk berperan di film ini. Waktu awal aku ditawarin, yang ‘dijual’ adalah ini film body horror. Aku langsung, ‘Oke, let’s go!’” ungkap Fergie.
Sementara itu, Putri Ayudya yang memerankan karakter Dini menilai film ini memiliki lapisan makna yang lebih dalam. Ia menyoroti bagaimana konsep ain atau evil eye tidak hanya menjadi elemen cerita, tetapi juga mengandung pesan reflektif bagi penonton.





