Ketergantungan Gas Tekan Industri Keramik, Asosiasi Usul Skema DMO

bisnis.com
5 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, SERANG - Industri keramik nasional menghadapi tekanan akibat ketergantungan tinggi terhadap gas bumi di tengah kenaikan harga dan gangguan pasokan yang semakin sering terjadi. Kondisi ini menekan biaya produksi, mengganggu utilitas dan daya saing industri.

Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki), Edy Suyanto menegaskan, persoalan utama industri saat ini bukan hanya harga gas, tetapi juga keandalan pasokan.

“Gangguan gas sekarang semakin sering. Bahkan dalam beberapa kejadian tekanannya sangat rendah sampai nol, sehingga pabrik tidak bisa berproduksi,” ujar Edy, yang juga merupakan Chief Operating Officer PT Arwana Citra Mulia Tbk., Selasa (8/4/2026).

Sepanjang 2025 hingga awal 2026, gangguan pasokan gas tercatat berulang kali terjadi di wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur. Kondisi ini menyebabkan operasional pabrik sejumlah anggota Asaki terganggu dan berdampak pada utilisasi kapasitas produksi nasional, beberapa di antaranya terpaksa harus merumahkan karyawan bahkan gulung tikar.

Di sisi harga, meskipun pemerintah telah menetapkan harga gas bumi tertentu (HGBT) sebesar US$7 per MMBtu, realisasi di lapangan menunjukkan biaya yang jauh lebih tinggi bahkan bisa mencapai US$10,6 per MMBtu.

Edy juga mengakui bahwa industri kerap harus menggunakan gas regasifikasi akibat keterbatasan pasokan, dengan harga mencapai US$15 per MMBtu.

Baca Juga

  • BMAD Produk Keramik Disebut Kurang dari 100%, Begini Respons Asaki
  • Asaki Prediksi Produksi Keramik Tahun Ini Bisa Tembus Angka sebelum Pandemi
  • Kinerja Industri Keramik On Track, Asaki: Target Utilisasi Turun Tipis

“Masalahnya bukan hanya mahal, tapi juga tidak stabil. Ini yang paling mengganggu perencanaan produksi,” katanya.

Kondisi tersebut mendorong kenaikan signifikan pada porsi biaya energi dalam struktur produksi, dari sebelumnya sekitar 27–30% menjadi 36–38%. Padahal, industri keramik merupakan sektor padat energi yang sangat bergantung pada gas sebagai sumber utama pembakaran.

“Dengan suhu produksi di atas 1.000 derajat C, tidak ada substitusi energi lain yang feasible selain gas,” ujarnya.

Menariknya, Edy menilai industri dalam negeri sebenarnya memiliki kemampuan untuk menyerap gas dengan harga yang kompetitif, bahkan mendekati harga ekspor.

Dia mengungkapkan, harga gas ekspor Indonesia berada di kisaran US$7 per MMBtu, sementara industri domestik saat ini sudah membayar jauh lebih tinggi.

“Artinya, manufaktur dalam negeri sebenarnya mampu menyerap gas, bahkan bersedia membayar lebih tinggi dari harga ekspor. Kalau di kisaran US$7,5 tanpa gangguan pasokan, industri ini bisa sangat berdaya saing, bahkan menjadi pemain global,” katanya.

Pernyataan ini sekaligus menyoroti pentingnya transparansi dan pengelolaan alokasi energi nasional, terutama di tengah tingginya kebutuhan gas untuk sektor manufaktur.

Di tengah tekanan tersebut, asosiasi mendorong pemerintah untuk mempertimbangkan kebijakan yang memastikan prioritas pasokan gas bagi kebutuhan domestik. Salah satu opsi yang didorong adalah penerapan skema serupa Domestic Market Obligation (DMO) untuk gas, seperti yang telah diterapkan pada komoditas lain.

Menurut Edy, sekitar 30% produksi gas nasional saat ini masih dialokasikan untuk ekspor, sementara industri dalam negeri justru menghadapi keterbatasan pasokan.

“Kalau gas tersedia untuk domestik, utilisasi industri bisa naik. Kalau utilisasi optimal, pasti diikuti ekspansi, investasi, dan penyerapan tenaga kerja,” ujarnya.

Selain faktor energi, industri keramik juga menghadapi potensi tekanan dari sisi impor. Ketidakpastian geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah, berpotensi mendorong negara produsen seperti China dan India mengalihkan ekspor ke pasar alternatif, termasuk Indonesia.

Meski demikian, dari sisi kapasitas, industri dalam negeri dinilai sudah mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik. Dalam beberapa tahun ke depan, kapasitas produksi bahkan diproyeksikan meningkat signifikan seiring ekspansi yang dilakukan pelaku industri.

Di sisi permintaan, prospek pasar tetap dinilai positif, terutama didorong oleh program pembangunan perumahan dan infrastruktur pemerintah. Namun demikian, keberlanjutan pertumbuhan industri sangat bergantung pada kepastian pasokan energi.

“Selama gas tersedia dan stabil, kami optimistis utilisasi industri anggota Asaki di tahun ini sebesar 80% bisa tercapai,” ujar Edy Suyanto.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Madrid vs Bayern Munchen : Vincent Kompany Yakin Menang pada Leg Kedua 
• 16 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Presiden Prabowo Tegaskan 70 Persen Energi Asia Timur Melintasi Laut Indonesia dalam Rapat Kabinet
• 9 jam lalupantau.com
thumb
Sinopsis JEJAK DUKA DIANDRA SCTV Episode 93, Hari Ini Rabu 8 April 2026: Kabar Kematian Mengguncang, Rahasia Freya Hampir Terbongkar
• 15 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Ratusan Motor dan Mobil Curian di Sumsel Dikembalikan ke Pemiliknya
• 14 jam laluviva.co.id
thumb
Ciri Kepribadian Orang yang Kuat Secara Emosional saat Hadapi Tekanan Hidup
• 22 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.