Profil Nyak Sandang, Penyumbang Pesawat Pertama RI yang Meninggal Dunia di Usia 100 Tahun, ini Rekam Jejaknya

grid.id
4 hari lalu
Cover Berita

 

Grid.IDBerikut profil Nyak Sandang, penyumbang pesawat pertama RI yang meninggal dunia di usia 100 tahun. Rekam jejaknya kini menjadi sorotan.

Tokoh masyarakat sekaligus sosok bersejarah dalam perjuangan bangsa Indonesia, Teungku Nyak Sandang bin Lamudin, meninggal dunia pada usia 100 tahun, Selasa (7/4/2026) pukul 12.20 WIB di kediamannya, Gampong Lhuet, Kecamatan Jaya.

Profil Nyak Sandang

Nyak Sandang merupakan Nyak Sandang merupakan penyumbang pesawat pertama RI yang meninggal dunia di usia 100 tahun. ini rekam jejaknya.

Melansir dari Tribunnews.com, Nyak Sandang dikenal sebagai sosok yang turut menyumbangkan harta pribadinya untuk membantu pembelian pesawat pertama milik Republik Indonesia, Seulawah RI-001, pada masa kepemimpinan Presiden Soekarno. Pada 1948, saat berusia 23 tahun, ia menjual sebidang tanah serta emas seberat 10 gram, kemudian menyerahkan uang sebesar Rp100 kepada negara.

Dari masyarakat Aceh, Presiden Soekarno menerima donasi sekitar 120.000 dolar Singapura dan kurang lebih 20 kilogram emas murni. Dana tersebut digunakan untuk membeli dua pesawat Dakota, yakni Seulawah RI-001 dan RI-002, yang menjadi cikal bakal berdirinya Garuda Indonesia.

Pesawat Dakota RI-001 Seulawah menjadi simbol penting dalam sejarah awal penerbangan nasional Indonesia. Pesawat angkut jenis Dakota ini dibeli dari hasil gotong royong masyarakat Aceh pada pertengahan 1948, saat perjuangan mempertahankan kemerdekaan masih berlangsung.

Pembelian pesawat dilakukan di Singapura melalui misi yang dipimpin oleh Wiweko Soepono. Setelah proses selesai, pesawat tiba di Indonesia pada Oktober 1948 dan langsung digunakan untuk berbagai keperluan strategis negara.

Meski menggunakan nomor registrasi RI-001, pesawat ini bukan yang pertama dimiliki Indonesia. Sebelumnya, pemerintah telah memiliki pesawat Avro Anson RI-003 sejak Desember 1947.

Namun, Dakota RI-001 Seulawah memiliki peran yang jauh lebih besar karena menjadi cikal bakal berdirinya maskapai penerbangan niaga pertama Indonesia, Indonesian Airways, yang kemudian berkembang menjadi fondasi industri penerbangan nasional.

Secara teknis, pesawat Dakota DC-3 ini memiliki panjang sekitar 19,66 meter dan bentang sayap 28,96 meter. Pesawat ini menggunakan dua mesin Pratt & Whitney dengan berat total sekitar 8.030 kilogram dan mampu mencapai kecepatan maksimum hingga 346 km/jam.

 

Sejarah pembelian pesawat ini tidak lepas dari peran Presiden Soekarno yang berhasil membangkitkan semangat rakyat Aceh saat berkunjung pada 16 Juni 1948. Dari gerakan tersebut terkumpul donasi setara 20 kilogram emas.

Pesawat kemudian diberi nama “Seulawah” yang berarti Gunung Emas, sebagai simbol kekayaan serta pengorbanan rakyat Aceh bagi bangsa Indonesia.

Kehadiran pesawat ini membuka jalur penerbangan penting, mulai dari rute Jawa–Sumatra hingga penerbangan ke luar negeri. Bahkan, Wakil Presiden Mohammad Hatta pernah menggunakannya untuk perjalanan keliling Sumatra pada November 1948.

Namun, perjalanan pesawat ini juga menghadapi tantangan, terutama saat Agresi Militer Belanda II. Saat itu, pesawat berada di luar negeri dan tidak dapat kembali ke Indonesia.

Dari kondisi tersebut, muncul gagasan untuk memanfaatkannya sebagai modal mendirikan Indonesian Airways di Burma (kini Myanmar) pada 1949.

Seiring waktu, pesawat Dakota tidak lagi digunakan, tetapi perannya tetap dikenang. Sebuah monumen Dakota RI-001 Seulawah dibangun di Lapangan Blang Padang dan diresmikan pada 30 Juli 1984 oleh L.B. Moerdani.

Sementara itu, pesawat aslinya kini disimpan di Taman Mini Indonesia Indah sebagai bagian dari warisan sejarah nasional. Dakota RI-001 Seulawah bukan sekadar alat transportasi, melainkan simbol nyata pengorbanan rakyat Aceh dalam membangun kedaulatan udara Indonesia.

Penghargaan dan Warisan

Pengabdian Nyak Sandang mendapat apresiasi dari negara. Presiden ke-7 RI Joko Widodo pernah memenuhi tiga permintaannya, yaitu operasi katarak, ibadah umrah, serta pembangunan Masjid Baitussalam di kampung halamannya yang diresmikan pada 26 Maret 2022. Kemudian, pada 25 Agustus 2025, Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan tanda kehormatan negara kepada Nyak Sandang melalui Keputusan Presiden RI Nomor 73-78/TK Tahun 2025.

Pesan untuk Generasi Muda

Dalam peringatan HUT RI tahun 2019, Nyak Sandang berpesan, “Semoga kemerdekaan ini dapat dijaga, dilanjutkan, dan diisi dengan sebaik-baiknya.” Kini, sosok yang dijuluki sebagai “pemilik pesawat pertama RI” itu telah berpulang, namun jasa dan namanya akan selalu dikenang setiap kali Garuda Indonesia mengudara di langit Nusantara.

 

Diketahui, Tokoh masyarakat Aceh Jaya itu mengembuskan napas terakhir di rumahnya di Desa (Gampoeng) Lhuet, Kecamatan Jaya.

"Iya benar, Nyak Sandang (ayah) meninggal dunia siang tadi sekitar pukul 12.00 WIB," kata Camat Kecamatan Jaya, Syamsuddin Rani, dikutip dari Kompas.com.

Syamsuddin mengatakan, warga Aceh Jaya kini tengah berduka atas kehilangan sosok Nyak Sandang yang selama ini menjadi tokoh masyarakat.

"Kami semua berduka atas kepulangan beliau," ujarnya.

Sementara itu, cucu Nyak Sandang, Ataillah mengatakan, selama ini almarhum tidak sedang dalam kondisi sakit berat, namun kondisinya sudah melemah karena faktor usia.

"Kondisinya memang sudah melemah, tapi bukan sakit parah yang harus dirawat di rumah sakit. Usia beliau genap sekitar 100 tahun," katanya singkat. (*)

 

 

Artikel Asli


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jakarta Kota Teraman Kedua Asia Tenggara, Pramono: Bukan Pemprov DKI Minta, tapi Hasil Survei
• 22 jam lalukompas.com
thumb
Hobi Bisa Meningkatkan Kecerdasan Emosional
• 2 jam lalubeautynesia.id
thumb
Jadwal Big Match Liga Inggris Malam Ini: Chelsea Jamu Manchester City
• 15 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Mensos Mulai Bahas Penebalan Bansos dengan Presiden Meski Ada Efisiensi Anggaran
• 3 jam laluidxchannel.com
thumb
KPK sebut Gatut Sunu kerap minta reimburs ke OPD, termasuk beli sepatu
• 23 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.