Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG diproyeksikan naik pada perdagangan saham hari ini, Kamis (9/4). Sebelumnya pada perdagangan Rabu (8/4), IHSG ditutup melonjak 4,42% ke level 7.279 disertai dengan munculnya volume pembelian.
Secara teknikal, analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai pergerakan IHSG masih tertahan di sekitar rata-rata pergerakan 20 hari (MA20). Ia memperkirakan posisi IHSG saat ini masih berada dalam fase koreksi, sehingga indeks berpotensi turun ke kisaran 6.745–6.849.
“Namun, dalam skenario terbaik, IHSG diperkirakan sudah menyelesaikan fase koreksinya, sehingga berpeluang kembali menguat ke kisaran 7.323–7.450,” tulis Herditya dalam risetnya, Kamis (9/4).
MNC Sekuritas menetapkan support IHSG berada di 7.020 dan 6.917. Sementara resistance terdekat berada di 7.302 dan 7.440.
Support merupakan area harga saham tertentu yang diyakini sebagai titik terendah pada satu waktu. Saat menyentuh support, harga umumnya akan kembali naik karena daya beli saham naik.
Sedangkan resistance merupakan tingkat harga saham tertentu yang dinilai sebagai titik tertinggi. Setelah saham menyentuh level ini, biasanya akan ada aksi jual cukup besar hingga laju kenaikan harga tertahan.
MNC Sekuritas merekomendasikan buy on weakness sejumlah saham. Misalnya PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) akumulasi beli di rentang Rp 775–Rp 830 dengan target harga di Rp 940–Rp 980, sementara level stoploss di bawah Rp 720.
Kemudian PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) direkomendasikan buy on weakness pada area Rp 745–Rp 775 dengan target harga di Rp 815. 850 serta stoploss di bawah Rp 710.
Di samping itu, Phintraco Sekuritas menilai penguatan IHSG didorong oleh koreksi tajam harga minyak mentah setelah Presiden Donald Trump menunda rencana penyerangan infrastruktur di Iran selama dua pekan.
Secara teknikal, indikator menunjukkan sinyal positif. Histogram MACD terus membentuk tren positif yang diikuti peningkatan volume beli. Indikator Stochastic RSI juga mengindikasikan potensi kenaikan lanjutan pada IHSG. Selain itu, IHSG telah menembus level MA5 dan MA20.
“IHSG berpotensi menguji level resistance berikutnya di 7.300–7.350,” tulis Phintraco dalam analisisnya, Kamis (9/4).
Di samping itu cadangan devisa Indonesia turun menjadi US$ 148,2 miliar pada Maret 2026 dari US$ 151,9 miliar pada Februari 2026 (8/4), sekaligus menjadi level terendah sejak Juli 2024. Penurunan ini terutama dipicu langkah Bank Indonesia dalam menstabilkan nilai tukar rupiah di tengah tekanan pasar global.
Meski menurun, posisi cadangan devisa masih tergolong aman karena mampu membiayai 6 bulan impor atau 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka ini tetap jauh di atas standar internasional sekitar 3 bulan impor.
Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah merancang aturan baru terkait Rencana Bisnis Bank (RBB) demi mendukung program prioritas pemerintah, penguatan UMKM, hingga menjaga stabilitas sistem keuangan dan pembangunan nasional.
OJK juga mewajibkan perbankan menyusun rencana bisnis secara realistis setiap tahun dengan mempertimbangkan berbagai faktor. Mulai dari kondisi eksternal dan internal yang memengaruhi kelangsungan usaha, hingga penerapan prinsip kehati-hatian, manajemen risiko, dan asas perbankan yang sehat.
Phintraco Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham, yakni PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT), dan PT Astra International Tbk (ASII).




