PEMIMPIN tertinggi Iran Mojtaba Khamenei dilaporkan mengalami cedera serius akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel yang berlangsung sejak akhir Februari.
Sejumlah laporan menyebutkan bahwa Mojtaba mengalami luka sejak hari pertama serangan pada 28 Februari. Berdasarkan informasi dari sumber yang mengetahui situasi tersebut, ia mengalami patah kaki, memar di bagian mata kiri, serta luka robek ringan di wajah.
Sumber yang sama menyebut kondisi Mojtaba sempat kritis dan menjalani perawatan di wilayah Qom. Informasi ini disebut berasal dari memo diplomatik yang dihimpun intelijen Amerika Serikat.
Baca juga : Pelarian atau Perawatan? Simpang Siur Kabar Mojtaba Khamenei di Rusia
Di sisi lain, militer Israel juga mengonfirmasi cedera pada kaki Mojtaba sejak awal konflik. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, turut menyampaikan kemungkinan kondisi tersebut.
"Ada kemungkinan yang disebut pemimpin tertinggi baru itu sudah terluka," ujarnya dalam konferensi pers dikutip CNN News, Kamis (9/4).
Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya juga menyinggung kondisi pemimpin Iran tersebut.
Baca juga : Trump Buka Peluang Dialog dengan Iran usai Bunuh Ali Khamenei
"Saya rasa dia terluka, tetapi masih hidup dalam kondisi tertentu," kata Trump pada 26 Maret.
Sejumlah media Barat bahkan melaporkan bahwa Mojtaba berada dalam kondisi koma dan dirawat secara tertutup di rumah sakit.
Terdapat pula kabar yang menyebut ia sempat dibawa ke Rusia untuk menjalani operasi demi alasan keamanan.
Namun demikian, Kedutaan Besar Iran di Rusia membantah laporan tersebut. Pemerintah Iran mengakui bahwa Mojtaba sempat mengalami luka, tetapi menolak klaim bahwa kondisinya kritis.
"Tidak ada masalah dengan pemimpin tertinggi yang baru. Dia mengeluarkan pernyataan kemarin dan menjalankan tugasnya sesuai dengan konstitusi," ujar Menteri Luar Negeri Iran pada akhir Maret.
Mojtaba Khamenei diketahui menjabat sebagai pemimpin tertinggi Iran setelah ayahnya, Ali Khamenei, tewas dalam serangan AS-Israel pada Februari. Ia terpilih melalui pemungutan suara di Majelis Ahli pada pekan pertama Maret.
Sejak konflik berlangsung, Mojtaba belum pernah tampil langsung di hadapan publik. Pernyataan perdananya sebagai pemimpin tertinggi disampaikan pada 12 Maret melalui siaran televisi pemerintah dan media sosial.
Dalam pernyataan tersebut, ia menegaskan sikap Iran terhadap serangan yang terjadi.
"Kami akan membalas darah para martir kami," sebutnya.
Ia juga menegaskan bahwa Iran akan menargetkan Israel serta aset militer AS di kawasan Teluk dalam operasi balasan.
"Seluruh pangkalan AS di kawasan harus segera ditutup, jika tidak pangkalan-pangkalan itu akan diserang," pungkasnya.
Hingga kini, kondisi terkini Mojtaba Khamenei masih menjadi sorotan, di tengah eskalasi konflik yang belum menunjukkan tanda mereda. (I-2)




