JAKARTA, KOMPAS-Analisis terbaru menggunakan radar satelit dan teknik pembelajaran mesin mengungkap penurunan permukaan tanah sebesar 1 hingga 15 centimeter per tahun di berbagai daerah Pulau Jawa, baik di perkotaan dan pedesaan. Penurunan permukaan tanah di sejumlah daerah di pantai utara yang diamati, memiliki laju lebih besar dari 1 cm per tahun.
Penurunan tanah ini menjadi menyebabkan risiko banjir ke depan semakin besar, terutama di daerah pesisir yang terancam banjir rob.
Penurunan permukaan tanah di Pulau Jawa ini dilaporkan dalam studi baru yang diterbitkan di jurnal Science Advances pada Rabu (8/4/2026). Leonard O. Ohenhen dari Department of Earth Systems Science, University of California menjadi penulis pertama laporan. Arif Aditya, dari Badan Informasi Geospasial (BIG) turut terlibat dalam publikasi ini.
Dalam laporannya, Ohenhen dan tim mengungkapkan bahwa penurunan permukaan tanah, bukan hanya kenaikan permukaan laut, akan menjadi penyebab utama banjir pesisir di masa depan di sepanjang Pulau Jawa yang padat penduduk.
"Kita sering menganggap bahaya kenaikan permukaan laut sebagai proses yang didorong oleh iklim, tetapi di banyak wilayah yang paling rentan di dunia, penurunan permukaan tanah akibat aktivitas manusia adalah pendorong utamanya. Jika kita mengabaikan hal itu, kita pada dasarnya meremehkan risiko," kata Manoochehr Shirzaei, ahli geologi Virginia Tech, Amerika Serikat, yang turut menulis studi tersebut, dalam keterangan tertulis.
Menggunakan data radar satelit dan teknik pembelajaran mesin canggih, tim peneliti memetakan penurunan permukaan tanah di seluruh Jawa dengan detail yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tak hanya di pesisir, analisis juga dilakukan di pedalaman Pulau Jawa.
Analisis tersebut mengungkap tingkat penurunan permukaan tanah sebesar 1 hingga 15 centimeter (cm) per tahun di seluruh wilayah perkotaan dan pedesaan, jauh melebihi kenaikan permukaan laut global. Titik-titik rawan dengan laju penurunan permukaan tanah yang tinggi, yaitu lebih dari 1 cm per tahun di pusat-pusat kota pesisir dan pedalaman, termasuk Jakarta, Bekasi, Bandung, Tegal, Semarang, Cilacap, Surabaya, Sidoarjo, dan Jember.
Tingkat penurunan permukaan tanah sebesar 1 hingga 15 centimeter (cm) per tahun di seluruh wilayah perkotaan dan pedesaan, jauh melebihi kenaikan permukaan laut global.
Daerah lain yang mengalami penurunan permukaan tanah cepat meliputi Pekalongan, Subang bagian utara, Brebes, Madiun, Demak, daerah yang berdekatan dengan gunung lumpur Lusi atau Lapindo, dan lahan pertanian luas di sepanjang Sungai Bengawan Solo di desa Pasi, Kabupaten Lamongan. Analisis rinci menunjukkan bahwa lebih dari 20 persen wilayah perkotaan di sebagian besar kota-kota ini mengalami penurunan permukaan tanah lebih cepat dari 1 cm per tahun.
Sedangkan di Bandung, Pekalongan, dan Demak, lebih dari 30 persen wilayah kota mengalami laju penurunan permukaan tanah lebih dari 5 cm per tahun. "Di sebagian besar dari 12 kota ini, yang sebagian besar terletak di sepanjang garis pantai utara, kami mengamati tingkat penurunan permukaan tanah rata-rata lebih dari 0,5 cm per tahun dan tingkat penurunan permukaan tanah puncak melebihi 10 cm per tahun," tulis Ohenhen.
Analisis di sepanjang garis pantai utara menunjukkan bahwa lebih dari 25 persen dari bentangan garis pantai sepanjang 1500 km mengalami penurunan permukaan tanah dengan laju lebih besar dari 1 cm per tahun. Penurunannya paling parah terkonsentrasi di daerah dataran rendah dan daerah dengan kepadatan penduduk tinggi.
Titik-titik rawan penurunan permukaan tanah di sepanjang garis pantai, dalam radius 1 km dari daratan, meliputi Jakarta dengan penurunan maksimum 3,6 cm per tahun dan Cirebon penurunan maksimum 3,8 cm per tahun. Pesisir Pekalongan mengalami penurunan tanah maksimum hingga 10 cm per tahun dan pesisir Semarang mengalami penurunan maksimum 8 cm per tahun.
Temuan ini memperkuat sejumlah laporan sebelumnya tentang laju penurunan daratan di pesisir Pulau Jawa. Seperti disampaikan Peneliti Ahli Utama Bidang Teknologi Penginderaan Jauh BRIN, Rokhis Khomarudin, berdasarkan pemantauan citra satelit yang dilakukannya, penurunan tanah di Jakarta sebesar 0,1-8 cm per tahun, Cirebon 0,3-4 cm per tahun, Pekalongan 2,1-11 cm per tahun, Semarang 0,9-6 cm per tahun, dan Surabaya 0,3-4,3 cm per tahun (kompas.id, 17 September 2021).
Penurunan muka tanah di pantai utara Jawa bisa ratusan kali lebih cepat dan berisiko jika dibandingkan kenaikan muka air laut global.
Laporan The Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyebutkan, kenaikan muka air laut global dalam kurun 1970–2000-an sebesar 1,8–3,1 milimeter (mm) per tahun. Sementara itu, laporan Paul Voosen di Science edisi November 2020 menyebutkan, kenaikan muka air laut global dalam satu dekade terakhir mencapai 3-4 mm per tahun.
Jika dibandingkan data terbaru Ohenhen dan tim, maka penurunan muka tanah di pantai utara Jawa bisa ratusan kali lebih cepat dan berisiko jika dibandingkan kenaikan muka air laut global.
Temuan utama Ohenhen dan tim menunjukkan bahwa pengambilan air tanah di daerah perkotaan, penggunaan air pertanian, ekstraksi industri, dan pemadatan sedimen alami di wilayah delta menjadi penyebab utama penurunan tanah di utara Jawa.
Dengan mengintegrasikan pengamatan satelit dengan proyeksi permukaan laut, para peneliti menunjukkan bahwa penurunan permukaan tanah akan menyumbang hingga 85 persen dari kenaikan permukaan laut relatif di sebagian besar garis pantai Jawa pada tahun 2050. Para penelitia juga memperkirakan, lebih dari 75 persen garis pantai di utara Jawa akan didominasi oleh risiko banjir akibat penurunan permukaan tanah selama 25 tahun ke depan.
Untuk mengatasi kurangnya pemantauan berbasis darat di banyak wilayah, para peneliti mengembangkan pendekatan yang menggunakan data satelit untuk membuat alat pengukur pasang surut virtual setiap 5 kilometer di sepanjang garis pantai.
Meskipun perubahan iklim global meningkatkan permukaan laut, studi ini menyoroti bahwa aktivitas manusia di tingkat lokal, terutama pengambilan air tanah, telah mempercepat penurunan permukaan tanah sehingga memperkuat risiko banjir.
Meskipun berfokus pada Jawa, temuan ini memiliki implikasi global. "Banyak wilayah pesisir di seluruh dunia menghadapi dinamika serupa, tetapi sering kali tidak terlihat," kata Leonard Ohenhen, mantan mahasiswa pascasarjana Virginia Tech yang sekarang berada di Universitas California, Irvine.
"Apa yang kita lihat di Jawa kemungkinan merupakan gambaran awal dari apa yang bisa terjadi di tempat lain jika penurunan permukaan tanah tidak dipantau dan dikelola dengan benar," imbuhnya.
Para peneliti menekankan bahwa adaptasi iklim yang efektif harus melampaui pengelolaan kenaikan permukaan laut untuk mencakup pemantauan aktif dan mitigasi penurunan permukaan tanah. "Penurunan permukaan tanah adalah salah satu komponen risiko pesisir yang paling mudah ditindaklanjuti," kata Shirzaei.
Menurut Shirzaei, tidak seperti kenaikan permukaan laut global, yang membutuhkan solusi global, penurunan permukaan tanah sering kali dapat dikelola secara lokal melalui kebijakan, infrastruktur, dan penggunaan sumber daya yang berkelanjutan. Hal itu menjadikannya pengungkit penting untuk membangun ketahanan.





