Bisnis.com, JAKARTA — Uni Eropa memperingatkan bahwa krisis harga energi global tidak akan berlangsung singkat, meskipun Iran mulai membuka kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata.
Juru bicara Komisi Eropa Anna-Kaisa Itkonen mengatakan, meredanya ketegangan di jalur maritim utama tersebut belum tentu menandakan pasar energi segera kembali stabil.
“Secara umum, kita tidak boleh berilusi bahwa krisis yang saat ini berdampak pada tingginya harga energi akan berlangsung singkat. Krisis ini tidak akan segera berakhir,” ujarnya dikutip dari Kantor Berita Anadolu, Kamis (9/4/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Iran sepakat membuka kembali Selat Hormuz sebagai bagian dari langkah deeskalasi sementara setelah beberapa pekan terjadi konfrontasi militer di kawasan tersebut.
Meski demikian, Itkonen menilai gangguan yang terjadi telah menyingkap kerentanan rantai pasok energi global dan berpotensi menimbulkan dampak berkepanjangan.
Sekitar 8,5% impor gas alam cair (LNG) Uni Eropa melewati Selat Hormuz. Sementara itu, sekitar 7% pasokan minyak blok tersebut berasal dari negara-negara kawasan seperti Irak, Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Baca Juga
- UEA: Penutupan Selat Hormuz Tekan Ekonomi Global, Tak Ada Negara yang Kebal Dampaknya
- Menanti Nasib Mujur Kapal Pertamina di Selat Hormuz usai Gencatan Senjata AS-Iran
- Lotte Chemical Turunkan Produksi Imbas Bahan Baku Tertahan di Selat Hormuz
Ketergantungan tersebut bahkan lebih besar untuk bahan bakar olahan. Sekitar 40% impor bahan bakar jet dan solar Uni Eropa terkait dengan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
“Secara global, selat ini menjadi jalur transit sekitar 20% perdagangan minyak dan LNG dunia. Ini merupakan titik sempit yang sangat, sangat penting,” kata Itkonen.
Dia menambahkan, pembatasan pelayaran yang terjadi baru-baru ini telah berdampak nyata pada pasar.
Perkembangan tersebut terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memutuskan menangguhkan serangan terhadap Iran selama 2 pekan, tidak lama sebelum tenggat waktu yang dia tetapkan bagi Teheran untuk membuka kembali jalur pelayaran dan memulai negosiasi.
Ketegangan kawasan meningkat setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut memicu aksi balasan Teheran yang menargetkan Israel serta negara-negara yang menjadi lokasi aset militer Amerika Serikat.
Sementara itu, Uni Emirat Arab (UEA) bersama negara-negara Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) dan Yordania terus mendorong stabilitas jalur perdagangan dan memastikan distribusi energi tetap berjalan, meskipun tekanan geopolitik meningkat.
Diberitakan Bisnis, Duta Besar Uni Emirat Arab untuk Indonesia Abdulla Salem AlDhaheri mengungkapkan bahwa eskalasi konflik telah mengganggu jalur strategis Selat Hormuz yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia.
Sekitar 20% pasokan minyak global dan 20% perdagangan LNG melewati jalur tersebut, dengan mayoritas pengiriman menuju pasar Asia. Penutupan jalur itu selama hampir 2 pekan memicu antrean panjang kapal kargo dan memperlambat distribusi energi serta barang ke berbagai negara tujuan.
“Perdagangan sudah pasti terdampak, dan tidak ada negara yang benar-benar kebal terhadap tekanan semacam ini,” kata Abdulla dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Ia menambahkan bahwa tekanan logistik tersebut tidak hanya meningkatkan biaya pengiriman, tetapi juga mendorong kenaikan harga energi global yang berdampak langsung ke berbagai sektor ekonomi.
Abdulla menekankan bahwa efek konflik tidak mengenal batas geografis, bahkan negara yang jauh dari pusat konflik tetap terdampak signifikan, termasuk Indonesia.
“Kami telah menyaksikan banyak korban luka. Kami telah menyaksikan kematian. Kami telah menyaksikan orang-orang kehilangan pekerjaan. Kami telah menyaksikan orang-orang terlantar. Mereka tidak bisa bepergian. Inilah yang tidak ingin kami lihat,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa gangguan berkepanjangan hanya akan memperburuk kondisi ekonomi global, memperlambat pemulihan, serta meningkatkan risiko inflasi di berbagai negara.
Menurutnya, menjaga kelancaran arus barang dan energi menjadi kunci untuk mencegah dampak ekonomi yang lebih luas.
“Kita perlu memastikan adanya jalur yang lancar dan baik agar bahan pangan dan komoditas lainnya dapat sampai ke tujuannya masing-masing,” pungkasnya.





