REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Duta Besar Uni Emirat Arab untuk Republik Indonesia, Republik Demokratik Timor Leste dan ASEAN, H.E. Abdulla Salem AIDhaheri menegaskan perang Iran dengan AS-Israel bukanlah perang agama.
Upaya untuk membingkai konflik ini sebagai perang agama adalah menyesatkan dan tidak mencerminkan realitas yang terjadi.
Baca Juga
Polda Riau Bangun Kolaborasi Strategis dengan Polisi Malaysia Tangani Narkotika hingga Terorisme
MUI Minta Akses Selat Hormuz untuk Kapal Indonesia Dibuka, Ini Jawaban Dubes Iran
Dihujat karena Tersenyum Saat Berfoto dengan Dubes AS, Ini Penjelasan Gus Ulil
"Ini adalah persoalan keamanan, kedaulatan, dan hukum internasional, bukan agama," ujarnya saat memberikan keterangan pers di kediamannya di Jakarta, Rabu (8/4/2026) malam.
Ia justru lebih mengkhawatirkan pola yang terlihat saat ini, yakni ketika Iran mengarahkan sebagian besar serangannya ke negara-negara tetangganya yang bukan pihak yang memulai eskalasi dan tidak menyerukan perang ini.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Statistik terbaru menunjukkan bahwa sekitar 85% rudal dan drone Iran diluncurkan ke arah negara-negara GCC dan Yordania, sementara hanya sekitar 15% yang menargetkan Israel.
"Berdasarkan realitas ini, saya mengajak seluruh negara di dunia Islam, termasuk Republik Indonesia dan rakyatnya yang ramah, untuk menilai situasi di Timur Tengah secara seimbang, tanpa dipengaruhi oleh narasi emosional yang bertentangan dengan fakta," ujarnya.
Ia juga mendorong sikap netral yang disertai solidaritas serta dukungan terhadap negara-negara Arab dan negara-negara Islam lainnya yang terdampak oleh konflik yang sedang berlangsung.
Selama ini, kata Dubes, Uni Emirat Arab serta negara-negara GCC, dan Yordania telah menunjukkan sikap menahan diri, tanggung jawab maupun disiplin.
"Kami tidak membalas dengan cara yang sama, meskipun menghadapi serangan berulang. Kami meyakini bahwa kepemimpinan tidak diukur dari eskalasi, melainkan dari kemampuan untuk mencegah meluasnya konflik."
Menurut Dubes, respons dari Uni Emirat Arab merupakan bagian upaya terpadu dan terkoordinasi bersama negara-negara GCC dan Yordania.
Di bawah kepemimpinan Yang Mulia Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan, Presiden Uni Emirat Arab, telah dilakukan komunikasi aktif dengan para pemimpin dunia, termasuk Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto buat mendorong de-eskalasi dan koordinasi internasional.
"Pada saat yang sama, para pemimpin di kawasan GCC, termasuk Yordania, juga melakukan upaya diplomatik serupa yang mencerminkan posisi kawasan Teluk yang bersatu," ujarnya.
Lihat postingan ini di Instagram
Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)