VIVA – Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan gencatan senjata di Lebanon tetap menjadi salah satu syarat utama dari 10 poin proposal gencatan senjata Iran yang bertujuan untuk menghentikan agresi Israel yang menargetkan kawasan tersebut.
Kepala eksekutif itu menyampaikan pernyataan tersebut dalam percakapan telepon dengan mitranya dari Prancis, Emmanuel Macron, pada hari Rabu, 8 April 2026, seperti dilansir Press TV.
Percakapan tersebut terjadi setelah rezim Israel membunuh ratusan orang di Lebanon yang jelas-jelas melanggar proposal tersebut, meskipun Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan proposal tersebut sebagai proposal yang "dapat diupayakan" untuk negosiasi.
Selama percakapan tersebut, Pezeshkian menekankan perlunya penghentian agresi terhadap Lebanon, mengidentifikasi keharusan tersebut sebagai "salah satu syarat utama dari proposal Iran."
Ia juga mengatakan Prancis memiliki peran penting untuk dimainkan pada tahap ini, mengingat bahwa Paris sebelumnya termasuk di antara pihak-pihak yang menjamin gencatan senjata yang dicapai antara rezim Israel dan gerakan perlawanan Hizbullah Lebanon pada tahun 2024.
Pezeshkian menegaskan Iran tetap berkomitmen untuk mempromosikan perdamaian, stabilitas, dan keamanan di seluruh kawasan.
Ia mengatakan penerimaan Republik Islam terhadap gencatan senjata telah menunjukkan "rasa tanggung jawabnya" dan "kemauan seriusnya untuk menyelesaikan perselisihan melalui diplomasi."
Kritik Respons EropaPresiden Iran mengkritik negara-negara Eropa karena kegagalan mereka untuk mengambil posisi yang tegas dan eksplisit atas kekejaman yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan rezim Israel terhadap Iran.
Ia menyerukan Eropa untuk memainkan "peran yang bertanggung jawab dan efektif" dalam mendukung stabilitas dan keamanan regional yang langgeng.
Pezeshkian juga mendesak negara-negara Eropa untuk menekan para agresor agar "mematuhi komitmen mereka" dan mencegah pelanggaran apa pun.
Di bagian lain percakapan, Pezeshkian mengatakan ketidakamanan yang memengaruhi Selat Hormuz adalah "akibat langsung dari agresi militer Amerika Serikat dan rezim Israel terhadap Iran."
Ia juga mengatakan Republik Islam telah bertindak secara bertanggung jawab selama bertahun-tahun dalam memastikan jalur aman bagi kapal-kapal melalui jalur air strategis tersebut, sambil tetap menjaga kepentingan dan keamanan nasionalnya sendiri.





