JAKARTA, KOMPAS.com - Kerasnya kehidupan di Jakarta membuat kaum ibu harus ikut terjun banting tulang membantu perekonomian keluarga.
Tugas para ibu di ibu kota bukan hanya sekedar mengurus rumah dan anak, tapi sebagian besar dari mereka juga harus berjuang mencari uang untuk membantu suaminya.
Para ibu rumah tangga mencari uang tambahan di Jakarta dengan berbagai cara, ada yang bekerja formal di kantoran, berjualan, bahkan menjadi joki bantuan sosial (bansos).
Baca juga: Jasa Joki Tugas Jadi Ladang Cuan, Mahasiswa Ini Kantongi Jutaan Rupiah
Berawal dari tolong menolongSalah satu warga Jakarta Selatan yang menjadi joki bansos adalah Refa (bukan nama sebenarnya, 35).
Ia bercerita, awal mula bisa menjadi joki bansos karena sering dimintai tolong oleh para tetangganya untuk mengambil bantuan sosial yang cair.
"Sering bantuin orang mengambil bansos seperti lansia, disabilitas, Kartu Anak Jakarta, Kartu Jakarta Pintar (KJP)," tutur Refa ketika diwawancarai di kawasan Jakarta Selatan, Rabu (8/4/2026).
Ia biasanya dimintai tolong untuk mengambil dana bansos tersebut di ATM Bank DKI Jakarta yang ada di setiap kelurahan.
Namun, selain bisa diambil dalam bentuk uang, sebagian dana bansos yang cair tersebut juga bisa digunakan untuk menebus pangan bersubsidi.
Satu kartu bansos misalkan lansia atau disabilitas bisa mendapatkan satu paket pangan bersubsidi seharga Rp 96.000 yang berisi lima kilogram (kg) beras, satu ekor daging ayam, sekilo daging sapi, sekilo ikan kembung, dan telur ayam.
Sedangkan untuk bansos KJP, harga paket sembakonya Rp 126.000 dengan isi yang sama, hanya saja ada tambahan susu satu kardus.
Oleh karena itu, banyak penerima bansos yang menyisakan saldo di ATM-nya untuk menebus pangan bersubsidi tersebut.
Namun, untuk menebus pangan bersubsidi tidak mudah.
Para penerima bansos harus daftar online untuk mendapatkan barcode terlebih dahulu, kemudian harus antre berjam-jam untuk mengambil paket sembako di gerai yang sudah ditentukan.
Oleh karena itu, banyak penerima bansos yang menggunakan jasa Refa untuk mengambil pangan bersubsidi itu, karena malas mengantre dan susah mendapatkan barcode.
Baca juga: Fenomena Joki Skripsi Kian Marak, Pengamat Sebut Cerminan Kegagalan Sistem Pendidikan Tinggi
Seiring berjalannya waktu, semakin banyak orang yang menggunakan jasa ibu dua anak itu untuk menebus pangan bersubsidi.





