Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) merencanakan akan mendatangkan berbagai macam alat utama sistem pertahanan (alutsista) baru.
Hal tersebut menimbulkan persoalan mengenai interoperabilitas atau kemampuan berbagai alutsista itu untuk tetap bisa bertukar data meskipun memiliki sistem yang berbeda.
Mengenai hal ini, Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono, menjamin setiap alutsista yang memiliki sistem berbeda itu dapat terkoneksi satu sama lain. Tonny pun mencontohkan dengan alutsista sistem berbeda yang telah dimiliki TNI AU saat ini, yaitu pesawat tempur F-16 Fighting Falcon dan Sukhoi.
"Jadi komunikasi antarpesawat itu juga mereka punya satu sistem sendiri, yang dari misalnya F-16 dia punya Link 16, kemudian pesawat Sukhoi mempunyai Telecode dan ini agak sulit diintegrasikan atau dikomunikasikan," tutur Tonny usai peringatan HUT TNI AU di Mabes TNI AU, Jakarta Timur, Kamis (9/4).
Kata Tonny, kedua alat itu berhasil dikoneksikan. Upaya itu dilakukan oleh Pusat Komando dan Pengendalian (Puskodal) TNI AU.
"Kita mempunyai satu Puskodal yang bisa meng-input, kita bisa memonitor semua pergerakan pesawat sehingga dari situlah dengan segala kemampuan Angkatan Udara bisa mengintegrasikan semua sistem yang akan kita miliki," ungkap Tonny.
Selain melalui Puskodal, Tonny juga akan mencari sistem dari negara lain. Utamanya dari negara-negara maju untuk mengintegrasikan sistem.
"Kita juga mencari sistem yang dibuat oleh negara-negara maju yang bisa mengintegrasikan semua sistem-sistem itu," pungkasnya.
Sebelumnya, TNI AU telah mendatangkan alutsista baru dan sudah dioperasikan terbang ke Aceh. Alutsista tersebut adalah Airbus 400M yang merupakan pesawat serbaguna, bisa untuk mengangkut pasukan, bisa juga untuk jadi tanker mengisi bahan bakar pesawat tempur.
TNI AU juga kedatangan pesawat tempur Rafale yang kini bermarkas di Lanud Roesmin Nurjadin, Riau.





