JAKARTA, DISWAY.ID-- Pemerintah belum berencana melakukan penarikan prajurit TNI yang menjadi Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon (United Nations Interim Force in Lebanon/UNIFIL).
"Kalau pertanyaannya sampai ke keputusan penarikan, itu belum ya. Tapi bahwa dengan adanya kejadian yang kemarin tentu kami pemerintah harus melakukan koordinasi," kata Prasetyo, Kamis, 9 April 2026.
Dia menjelaskan pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri masih terus melakukan koordinasi dan evaluasi menyusul insiden yang menimpa prajurit TNI di wilayah tersebut.
BACA JUGA:Siswa Sekolah Rakyat Doa Lintas Agama untuk Prajurit TNI Gugur di Lebanon
Nantinya, penarikan pasukan Indonesia dari Lebanon akan melihat hasil evaluasi tersebut.
"Ya kita lihat dulu hasilnya kan," tutur Prasetyo.
Saat ditanya hasil investigasi mengenai gugurnya 3 prajurit TNI di Lebanon, Pras mengaku belum mendapatkannya.
"Belum, kita belum terima laporan," imbuhnya.
Sebelumnya, 3 prajurit TNI gugur dalam dua insiden terpisah di Lebanon selatan. Kopda Anumerta Farizal Rhomadon (28) gugur dalam serangan ke posisi UNIFIL di Adchit Al Qusayr pada 29 Maret 2026.
Mereka adalah Praka Farizal Rhomadhon, Mayor Zulmi Aditya Kurniawan, atas nama sersan kepala (Serka) Anumerta Muhammad Nur Ikhwan.
Merespon hal itu, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto memerintahkan prajuritnya yang tengah bertugas dalam misi perdamaian di Lebanon untuk masuk ke dalam bunker.
BACA JUGA:Perkuat Soliditas Institusi, Puspom TNI dan Divpropam Polri Bangun Sinergitas Operasional
Hal itu disampaikan Jenderal Agus saat melakukan video call bersama Komandan Satgas Yonmek XXIII-S/UNFIL, Lebanon.
"Jaga moril prajurit yang ada di sana, tetap laksanakan pengamanan intern ya, masuk ke bunker-bunker, dan tidak ada kegiatan lagi keluar, dan jaga moril prajurit supaya tetap semangat ya, makasih. Semangat bertugas," ujar Agus saat menyampaikan arahan sebagaimana diposting dalam akun Instagramnya, Minggu, 5 April 2026.





