Harga Gambir Anjlok, Petani di Kabupaten Limapuluh Kota Ramai-ramai Jadi Pendulang Emas

kompas.id
16 jam lalu
Cover Berita

PADANG, KOMPAS — Para petani gambir di Nagari Galugua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, ramai-ramai jadi pendulang emas tradisional akibat anjloknya harga komoditas ekspor tersebut. Adapun pemerintah mewacanakan hilirisasi dalam negeri untuk mengatasi persoalan fluktuasi harga gambir.

Fenomena para petani gambir beralih jadi penambang emas itu terekam dalam video yang viral media sosial Instagram. Salah satunya video yang diunggah akun payakumbuhkini @pykkini pada Jumat (3/4/2026).

Dalam video berdurasi 50 detik itu, tampak puluhan warga menambang kerikil dan pasir di tepian sungai dan mengangkutnya dengan ember. Material tersebut kemudian disaring sembari disiram air untuk memisahkan kandungan emasnya.

Baca JugaHarga Gambir Kualitas Ekspor Anjlok, Petani Tekor 

Kepala Kepolisian Sektor Kapur IX Ajun Komisaris Rika Susanto, Kamis (9/4/2026), mengonfirmasi kebenaran video tersebut. Ia menyebut, puluhan warga itu menambang di Sungai atau Batang Kampar, Nagari Galugua, Kecamatan Kapur IX, Kabupaten Limapuluh Kota.

“Video itu betul. Petani beralih mendulang emas karena harga gambir anjlok,” ujar Rika, ketika dihubungi dari Padang, Kamis siang.

Rika menjelaskan, lokasi Nagari Galugua sekitar 42 kilometer dari markas Polsek Kapur IX. Nagari itu tergolong daerah terisolasi. Sebagian besar akses ke Galugua berupa jalan tanah dan mesti menggunakan mobil doubel gardan (4 x 4). Pun di sana belum ada sinyal internet.

Menurut Rika, saat awal menjabat sebulan lalu, ia pernah berkunjung ke Nagari Galugua menghadiri undangan berbuka puasa bersama dari ninik mamak dan wali nagari. Seusai berbuka, tokoh adat tersebut dan wali nagari menjelaskan adanya fenomena petani gambir beralih menambang emas.

“Masyarakat kami di sini (menambang emas) seperti itu karena keadaan ekonomi sedang pedih,” kata Rika menirukan penjelasan ninik mamak dan wali nagari. “Saat saya masuk ke sana (Nagari Galugua), harga gambir masih Rp 18.000 per kilogram.” ucap Rika.

Baca Juga27 Ton Gambir Sumbar Diekspor ke India, Pemerintah Didorong Perbaiki Tata Niaga

Rika menambahkan, kini harga gambir memang mulai berangsur naik jadi sekitar Rp 25.000-30.000 per kilogram. Namun, harga tersebut masih belum menguntungkan petani gambir sehingga mereka masih bertahan mendulang emas. Adapun video yang diunggah @pykkini adalah situasi setelah Lebaran.

“Kalau harga gambir normal, Rp 50.000 per kilogram, misalnya, mungkin sudah malas orang mendulang emas. Dari mangampo (mengolah gambir), petani bisa mendapat Rp 300.000-400.000 per hari. Kini dengan situasi begitu, gambir ditinggalkan,” kata Rika.

Apa yang dilakukan masyarakat, kata Rika, memang salah, tetapi petugas tidak dapat berbuat banyak. Pihaknya cuma dapat mengedukasi dan mengimbau. Ia pun memastikan penambangan dilakukan secara tradisional, tanpa menggunakan alat berat dan bahan kimia berbahaya.

“Kami, dengan model itu kondisi masyarakat, dalam posisi sulit untuk meng-apakannya (menindaknya). Bahkan, anak-anak juga ikut mendulang. Kami mengarahkan agar mengurus izin pertambangan rakyat,” katanya.

Anjloknya harga gambir akhir-akhir ini salah satunya dipicu oleh perang AS-Israel versus Iran.

Secara terpisah, Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi mengatakan, anjloknya harga gambir akhir-akhir ini salah satunya dipicu oleh perang AS-Israel versus Iran. Adapun tujuan pasar gambir dari Sumbar adalah India dan Pakistan. 

Menurut Mahyeldi, pemerintah sebenarnya telah berupaya mencarikan solusi atas fluktuasi harga gambir. Dalam pembicaraan gubernur dengan Menteri Pertanian Amran Sulaiman pada akhir tahun 2025, solusi yang muncul adalah hilirisasi di dalam negeri.

“Perkembangan terbaru yang saya dapatkan adalah bahwa Pak Menteri (Pertanian) sudah menetapkan akan membangun pabrik pengolahan gambir yang dikelola PTPN IV, lokasinya di Limapuluh Kota,” kata Mahyeldi, saat ditemui di sela-sela Musrenbang Sumbar, Rabu (8/4/2026).

Adapun terkait fenomena petani gambir berbondong-bondong beralih mendulang emas, Mahyeldi menyebut, potensi emas memang banyak di Sumbar, tampak dari penamaan daerah menggunakan unsur emas, seperti Sungai Beremas, Gunuang Omeh, dan Sungai Pagu Balantai Ameh.

“Kalau kegiatan masyarakat menggunakan alat-alat tradisional, saya kira itu suatu hal yang sangat memungkinkan (tidak melanggar hukum). Yang perlu kita kendalikan adalah ketika sudah menggunakan alat berat dan zat kimia tertentu yang akan berdampak serius,” ujar Mahyeldi.

Baca JugaSumbar Kehilangan 7.622 Hektar Tutupan Hutan akibat Tambang Emas Ilegal

Menurut Mahyeldi, soal tambang emas ilegal menggunakan alat berat, Pemprov Sumbar sudah bersinergi dengan jajaran kepolisian dan pemerintah kabupaten/kota untuk pengawasan dan penindakan. Soal penindakan merupakan tugas kepolisian dan ia pun berharap kepolisian terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan masyarakat setempat dalam mengendalikan pelanggaran dan perusakan lingkungan. 

Pertambangan rakyat

Sebagai solusi jangka panjang pengendalian tambang emas ilegal, kata Mahyeldi, Pemprov Sumbar sebenarnya sejak tahun lalu mengusulkan wilayah pertambangan rakyat (WPR). Dari 467 blok WPR yang diusulkan, 301 blok WPR disepakati oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) (Kompas.id, 19/1/2026).

Baca JugaAtasi Tambang Ilegal, Sumbar Usulkan 301 Wilayah Pertambangan Rakyat di 9 Daerah

“Sudah kami urus dan kami mintakan ke Menteri ESDM. Cuma sampai sekarang belum ada kejelasannya. Maka kami berharap bagaimana semangat dari Kementerian ESDM. Semuanya sudah kami lengkapi dan kirim. Lebih kurang ada 15.000 hektar WPR yang kami usulkan,” ucapnya.

Mahyeldi menambahkan, jika memang kementerian serius dalam menanggulangi tambang ilegal, semestinya usulan soal WPR yang didapat dari pembicaraan dengan anggota Forkopimda Sumbar ini dapat segera disetujui, termasuk teknis pelaksanaannya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tanah di Pulau Jawa ”Ambles”, Pantai Utara Paling Parah
• 22 jam lalukompas.id
thumb
Ancaman Bom Membatalkan Pertunjukan Shen Yun, Anggota Parlemen Kanada Memperingatkan Agar Tidak Menciptakan Preseden
• 18 jam laluerabaru.net
thumb
Tekad Kuat Muhammad Albagir untuk Membawa Timnas Futsal Indonesia Menjuarai Piala AFF Futsal 2026
• 13 jam lalubola.com
thumb
Lonjakan Harga, Omzet Pedagang Plastik di Majalengka Turun 50 Persen
• 19 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Cuaca Ekstrem Picu Risiko Kesehatan, Ini Tips Memilih AC yang Aman, Hemat, dan Sehat
• 7 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.