FAJAR, BONE — Keterbatasan akses transportasi di wilayah Kecamatan Awangpone, Kabupaten Bone, menjadi perhatian serius berbagai pihak.
Kondisi tersebut mendorong pembangunan Jembatan Perintis Garuda Tahap III di Kelurahan Maccope sebagai upaya mempercepat pemerataan pembangunan di wilayah yang selama ini terisolir.
Pembangunan jembatan tersebut mulai mendapat dukungan berbagai elemen, termasuk TNI melalui Kodim 1407/Bone.
Infrastruktur ini dinilai penting untuk membuka konektivitas antarwilayah serta mempermudah mobilitas masyarakat yang selama ini terkendala, terutama saat debit air meningkat.
Selama ini, warga setempat kerap mengalami kesulitan beraktivitas, khususnya pada musim hujan.
Akses yang terbatas tidak hanya menghambat mobilitas warga, tetapi juga berdampak pada distribusi hasil pertanian, layanan pendidikan, hingga pelayanan kesehatan.
Kondisi ini membuat wilayah tersebut dinilai membutuhkan percepatan pembangunan infrastruktur dasar.
Dandim 1407/Bone, Letkol Inf Laode Muhammad Idrus, menegaskan bahwa pembangunan jembatan tersebut merupakan bentuk nyata kehadiran negara dalam menjawab kebutuhan dasar masyarakat.
“Kami melihat langsung bagaimana masyarakat kesulitan beraktivitas akibat keterbatasan akses, terutama saat cuaca ekstrem. Ini harus segera diatasi,” ujarnya, Rabu, kemarin.
Menurutnya, keberadaan jembatan ini sangat penting dalam membuka konektivitas antarwilayah yang selama ini terhambat.
Ia menilai pembangunan tersebut tidak hanya menjadi penghubung fisik, tetapi juga membuka peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Jembatan ini akan membuka akses ekonomi, pendidikan, hingga pelayanan kesehatan yang lebih baik bagi warga,” katanya.
Dengan adanya pembangunan jembatan, diharapkan mobilitas warga menjadi lebih lancar dan aman.
Infrastruktur tersebut juga dinilai sebagai investasi jangka panjang untuk mendorong pemerataan pembangunan di daerah.
“Ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur, tetapi investasi jangka panjang untuk kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
Salah seorang warga Maccope, Ahmad (45), mengaku selama ini harus ekstra hati-hati saat melintas, terutama ketika musim hujan.
Debit air yang meningkat kerap membuat akses terputus dan memaksa warga mencari jalur alternatif.
“Kalau air naik, kami tidak berani lewat. Kadang harus putar jauh atau menunggu surut. Sangat menyulitkan, apalagi kalau mau bawa hasil kebun,” ujarnya.
Warga berharap pembangunan jembatan tersebut segera rampung agar aktivitas masyarakat kembali normal dan akses antarwilayah menjadi lebih mudah.
“Kami sangat bersyukur kalau jembatan ini jadi. Anak-anak bisa ke sekolah lebih aman, dan kami juga lebih mudah ke pasar,” tandasnya. (an).





