Korea Utara (Korut) melakukan uji coba senjata selama tiga hari berturut-turut, termasuk peluncuran rudal balistik dan bom klaster, mulai Senin (6/4) sampai Rabu (7/4).
Media pemerintah Korut KCNA pada Kamis (9/4) melaporkan, uji coba ini berlangsung di tengah ketegangan yang belum mereda dengan Korea Selatan (Korsel), sekaligus menandai rangkaian tes senjata terbaru Pyongyang tahun ini.
Dalam rangkaian itu, Korut menguji rudal balistik jarak pendek, sistem rudal anti-pesawat mobile, hingga berbagai senjata baru.
Militer Korsel sebelumnya juga mendeteksi peluncuran beberapa rudal balistik jarak pendek pada Rabu (8/4) serta proyektil tak dikenal sehari sebelumnya, menurut militer Seoul.
Salah satu rudal yang diuji bahkan dilaporkan mampu menempuh jarak lebih dari 700 kilometer, menurut militer Korsel seperti dikutip AFP.
Pemimpin Korut Kim Jong-un tidak dilaporkan menghadiri uji coba tersebut. Hingga kini, media pemerintah juga belum merilis foto resmi dari peluncuran tersebut.
Bom Klaster dan Senjata BaruKCNA mengklaim rudal balistik taktis Hwasongpho-11 Ka yang diuji mampu membawa hulu ledak bom klaster dengan daya hancur luas. Rudal tersebut disebut bisa menghanguskan target di area seluas 6,5 hingga 7 hektare.
Bom klaster sendiri menjadi kontroversial karena menyebarkan banyak submunisi yang berisiko bagi warga sipil dalam jangka panjang.
Selain itu, Korut juga menguji sistem senjata elektromagnetik dan perangkat lain yang disebut sebagai aset strategis khusus. Pengujian ini pun menggunakan material berbiaya rendah untuk menguji performa maksimal mesin, menurut KCNA.
Sinyal ke Korea SelatanAnalis menilai uji coba ini menjadi sinyal penolakan Korut terhadap upaya Korsel memperbaiki hubungan.
Sebelumnya, Seoul sempat menyampaikan penyesalan atas insiden drone sipil yang masuk ke wilayah Korut pada Januari, menurut AFP.
Pernyataan pada Senin (6/4) itu awalnya disebut sebagai langkah "bijak" oleh Kim Yo-jong, saudara Kim Jong-un. Namun sehari kemudian, pejabat Korut kembali menyebut Korsel sebagai "negara musuh paling bermusuhan".
Analis Hong Tae-hwa menyebut langkah Pyongyang mencerminkan frustrasi mendalam terhadap Seoul.
"Dari sudut pandang Korea Utara, pendekatan damai Korea Selatan tidak menghasilkan pencabutan sanksi maupun jaminan keamanan," katanya, dilansir AFP.
Ia menambahkan Pyongyang saat ini belum tertarik untuk membuka dialog langsung dengan Seoul.





