Biografi Ginandjar Kartasasmita merekam kontribusinya dalam dinamika politik, ekonomi, dan kelembagaan Indonesia selama lebih dari lima dekade. Buku itu juga menyingkap perannya dalam menghadapi krisis 1997-1998, gagasan strategis tentang pembangunan, dan ketahanan ekonomi yang masih relevan hingga kini.
Biografi Ginandjar Kartasasmita yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas itu berjudul Pengabdian dari Masa ke Masa-Perjalanan, Pergulatan Hidup dan Pemikiran. Peluncurannya dilaksanakan di Menara Kompas, Jakarta, Kamis (9/4/2026).
Dalam kesempatan itu hadir antara lain Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita; Wakil Menteri Perindustrian Faisol Reza; anggota Dewan Perwakilan Daerah, Irman Gusman; dan para mantan anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Selain itu, para mantan menteri dari masa ke masa, para mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara (AU), para kerabat, dan beberapa anggota DPR serta Komisaris Kompas Gramedia Irwan Oetama.
Buku yang ditulis editor senior Penerbit Buku Kompas, Suhartono (dkk), itu merupakan karya reflektif perjalanan panjang Ginandjar Kartasasmita. Tokoh nasional itu terlibat langsung dalam berbagai fase penting sejarah Indonesia, mulai dari era Orde Baru dan era Reformasi.
Kariernya melesat mulai dari Sekretariat Negara, menjabat menteri muda, menteri koordinator bidang ekonomi, keuangan, dan industri. Kemudian, Wakil Ketua MPR (1999-2004) yang terlibat dalam empat amendeman Undang-Undang Dasar 1945, Ketua DPD (2004-2009) serta anggota Dewan Pertimbangan Presiden (2010-2014). Ia juga mendorong pengunduran diri Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998, langkah yang menuai kontroversi.
Buku itu juga tidak hanya berkisah tentang perjalanan kariernya, tetapi juga menggambarkan dinamika politik, ekonomi, dan kelembagaan negara selama lebih dari lima dekade. Dalam perjalanan bangsa itu, Ginandjar turut berkontribusi dalam perumusan kebijakan pembangunan, investasi, dan ekonomi nasional.
Selain itu, mengangkat peran Ginandjar dalam menghadapi krisis 1997-1998, momentum krusial yang menjadi titik balik perjalanan bangsa Indonesia. Buku itu juga memuat pemikiran strategisnya mengenai pembangunan, demokrasi, dan ketahanan ekonomi yang sangat relevan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Kepala Bappenas) 2015-2016, Sofyan Djalil, yang hadir sebagai pembicara dalam kesempatan itu, menuturkan, di dalam jabatan apa pun, sosok Ginandjar meninggalkan jejak yang jelas dan baik. Ia telah memberikan kontribusi besar dalam berbagi posisi untuk kebaikan negara ini.
Ginandjar dinilai berperan dalam memperbaiki stabilitas ekonomi saat krisis 1999. Pada saat itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mencapai Rp 17.000. Namun bisa kembali ke level Rp 6.000. Namun, demi menjaga daya saing ekspor, maka ditetapkan Rp 8.000.
Kunci keberhasilan itu ada pada pengalamannya. Pengalaman itu, antara lain saat di Komando Operasi Tertinggi (KOTI) dan Setneg, ia berkunjung dan bertemu banyak orang mendampingi presiden.
”Kurva pembelajarannya panjang. Tim ekonomi yang dipimpinnya juga profesional, berpengalaman panjang,” ungkap Sofyan.
Buku itu menguak bagaimana masa muda Ginandjar bekerja keras, cerdas, dan kepeduliannya yang dirasakan melalui lahirnya pengusaha-pengusaha nasional karena keberpihakannya. Hal itu terbentuk dari kobinasi perjalanan pendidikannya hingga di Jepang.
”Buku ini sangat menginspirasi. Anak-anak muda bacalah buku ini, tetapi bukan bagaimana Pak Ginandjar di puncak kariernya, melainkan bagaimana Beliau membentuk dirinya hingga menjadi yang dikenal saat ini,” kata Sofyan.
Menteri PPN/Bappenas Rahmat Pambudy dalam kesempatan itu, menuturkan, Ginandjar meletakkan dasar-dasar pengembangan wirausaha dan hilirisasi. Dalam pidatonya saat dikukuhkan sebagai Guru Besar di Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, sangat jelas terkait industrialisasi. Ia meletakkan dasar-dasar bagi pembangunan Indonesia modern.
”Jika ide-ide Beliau dilanjutkan, maka kita akan selamat mencapai Indonesia Emas 2045,” ujar Rahmat.
Ginandjar tidak hanya meninggalkan legasi cara memimpin Bappenas, tetapi juga pemikiran yang tak akan lekang oleh waktu. Hal ini bisa menjadi dasar membangun Indonesia ke depan. Pemikirannya bermanfaat dalam membangun wirausaha.
Saat menjadi Menteri Urusan Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri, ia melatakkan dasar-dasar kewirausahaan dalam negeri. Dasar-dasar keriwausahaan yang dikembangkannya adalah kewirausahaan asli Indonesia.
Dengan membangun kewirausahaan, maka akan lepas dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap). Kendati Ginandjar sudah tidak lagi menjabat, namun bagaimana negara berupaya lepas dari jebakan pendapatan menengah, menjadi kian relevan.
Terkait hilirisasi, sejak 1993, Ginandjar sudah menyampaikan istilah hilirisasi, kendati dengan kata yang berbeda, yaitu agroindustri. Selain itu, ia mengundang Lembaga Swadaya Masyarakat untuk masuk ke Bappenas guna memikirkan Inpres Desa Tertinggal. Hal itu salah satu cara menjadikan Indonesia sebagai bagian dari pembangunan dari Aceh hingga Papua.
Ginandjar, menuturkan, buku itu diharapkan menjadi catatan bagi generasi yang akan datang. Buku itu berisi berbagai pengalaman masa lalu dan pengamatan di masa lalu hingga kini serta apa yang menjadi perhatian generasi mendatang. Ia merupakan mantan perwira TNI AU. Namun, tumbuh di luar angkatan karena sejak masih kapten diperbantukan di KOTI. Setelah itu pindah ke Setneg.
Berbagai pengalamannya diharapkan bisa dipetik pelajarannya. Salah satunya, kekuasaan harus dipergunakan dengan sebaik-baiknya dan amanah. Kalau tidak dipergunakan dengan amanah, kekuasaan bisa liar dan memukul diri sendiri serta merugikan banyak orang.
”Menduduki berbagai jabatan itu melalui perjalanan panjang. Barang kali generasi muda bisa belajar dari pengalaman-pengalaman saya. Selain itu siap untuk berkorban, menghadapi yang paling buruk, dan juga memberikan yang sebaik-baiknya,” ujarnya.
Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) Ace Hasan Syadzily dalam sambutannya, menuturkan, Ginandjar bukan hanya sebagai orangtua, tetapi juga guru kehidupannya. Bahkan, guru dalam pengertian sesungguhnya. Sebab, Ginandjar merupakan Guru Besar di berbagai universitas.
Beliau, tambahnya, tidak hanya memiliki jejak sebagai perwira tinggi di TNI AU, tetapi juga politisi yang memiliki nilai karena perjuangannya yang jelas. Perjalanan hidupnya juga merupakan perjalanan pengabdian yang terbaik bagi bangsa dan negara.
Ginandjar juga bukan hanya politisi birokrat penonton atau pengikut, Beliau juga aktor dalam sejarah Indonesia modern. Hal itu bisa dijelaskan dalam buku tersebut, saat Beliau menjelaskan bagaimana lahir di awal kemerdekaan, ditempa dalam kedisiplinan orangtua yang luar biasa. Selain itu, mengenyam pendidikan modern hingga mendapatkan beasiswa ke Jepang.
Irwan Oetama, menuturkan, Ginandjar merupakan tokoh yang boleh dikatakan pernah ada di segala zaman. Ginandjar juga menceritakan kepada penulis di dalam buku itu, terkait perjumpaannya dengan pendiri Kompas Gramedia, Jakob Oetama.
Selama di KOTI, Ginandjar bertemu dengan seorang intelektual muda Katolik, Jakob Oetama. Di dalam buku itu, Jakob Oetama disebutnya sebagai jurnalis yang cakap dan pebisnis yang sukses.
”Bapak (Ginandjar) masih ingat peristiwa tersebut, meskipun sudah lama, yaitu tahun 1965. Terima kasih atas kepercayaan kepada Kompas Gramedia,” ujar Irwan.





