Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah memastikan pasokan energi nasional tetap aman meskipun proses negosiasi tanker Pertamina terus berlangsung di tengah dinamika geopolitik global.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan bahwa keterlambatan dalam proses negosiasi tidak akan mengganggu suplai bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri.
“Jangan dikaitkan bahwa proses negosiasi yang belum selesai akan mengganggu stok suplai. Tidak seperti itu,” ujar Prasetyo usai menghadiri Taklimat Presiden di Istana Merdeka, Rabu (8/4/2026).
Prasetyo menjelaskan bahwa volume minyak yang terdampak dalam proses tersebut sekitar 1,8 juta barel. Jumlah ini setara dengan cadangan nasional untuk satu hingga dua hari.
Meski begitu, pemerintah telah mengantisipasi dengan mengamankan sumber pasokan alternatif dari berbagai wilayah.
“Artinya pemerintah tidak tinggal diam. Sumber-sumber suplai dari tempat lain harus kita secure,” katanya.
Baca Juga
- Stok BBM Arus Balik, Pertamina Sumbagut Kerahkan 37 Motoris dan 14 SPBU Modular
- Sejumlah SPBU di Sulsel Kehabisan Stok BBM, Pertamina Jamin Pasokan Aman
- Jamin Keamanan Stok BBM dan LPG, Pemkab Garut Perkuat Pengawasan Distribusi
Langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas energi nasional di tengah ketidakpastian global, khususnya akibat konflik di kawasan Timur Tengah yang berimbas pada jalur distribusi energi dunia.
Meski begitu, Pemerintah belum bersedia mengungkap negara asal sumber impor bahan bakar minyak (BBM) yang tengah dijajaki di tengah dinamika pasokan energi global. Namun, pemerintah menegaskan bahwa ketersediaan energi nasional tetap dalam kondisi aman.
Prasetyo Hadi menyatakan bahwa fokus utama pemerintah saat ini adalah memastikan kecukupan stok, bukan asal negara pemasok.
“Nanti pada waktunya akan kita sampaikan. Yang penting tidak perlu dari negara mana, yang penting stok aman,” ujar Prasetyo.
Prasetyo tidak memberikan konfirmasi spesifik, namun menekankan bahwa seluruh langkah pemerintah didasarkan pada perhitungan matang untuk menjaga ketahanan energi nasional.
“Aman kita pastikan, kita berdasarkan hitungan tentunya,” katanya.
Sambut Baik Gencatan Senjata Iran-AS
Terkait perkembangan geopolitik, pemerintah menyambut positif gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat.
Prasetyo menilai setiap upaya penurunan eskalasi konflik akan berdampak baik, termasuk bagi stabilitas ekonomi global dan nasional.
“Segala upaya untuk menurunkan eskalasi ketegangan pastilah kita menyambut baik,” ujarnya.
Dia menekankan bahwa kondisi global saat ini saling terhubung, sehingga konflik di satu kawasan dapat memengaruhi negara lain, termasuk Indonesia.
Evaluasi Pasukan Perdamaian di Lebanon
Di sisi lain, pemerintah juga membuka kemungkinan evaluasi terhadap pengiriman pasukan perdamaian Indonesia di Lebanon, menyusul adanya korban dari prajurit TNI dalam misi tersebut.
Menurut Prasetyo, evaluasi tengah dilakukan sebagai bagian dari respons pemerintah terhadap situasi di lapangan.
“Iya pasti, itu bagian dari proses evaluasi,” katanya.
Namun, dia belum memastikan apakah evaluasi tersebut akan berujung pada penarikan pasukan.
“Ya kita lihat dulu hasilnya,” tandas Prasetyo.





