PT ALTO Network mencatat kinerja transaksi yang menguat 75 persen secara year on year (yoy) dengan volume mencapai sekitar 30 juta transaksi per hari hingga kuartal I 2026. CEO PT ALTO Network, Gretel Griselda, menyatakan dari sisi komposisi, transaksi didominasi oleh QRIS yang menyumbang sekitar 89 persen.
“30 juta transaksi per hari, sama-sama terbesar. QRIS 89 persen jualan kami dari sisi transaksi. Ya, kalau secara performance memang konfigurasi terbesar saat ini masih dipegang QRIS,” kata Gretel dalam konferensi pers di Habitate, Jakarta Selatan, Kamis (9/4).
Gretel menjelaskan, sumber utama transaksi berasal dari QRIS, diikuti oleh transfer antarbank baik melalui ATM maupun mobile banking. Sementara itu, transaksi penarikan tunai melalui ATM masih menempati posisi berikutnya.
Chief Business Officer PT ALTO Network, Rangga Wiseno, menambahkan dari sisi nilai total nominal transaksi tercatat meningkat sekitar 50 persen per Maret 2026.
“Yang menarik mungkin yang kita lihat ada pergeseran di ATM, di mana kalau kota-kota besar itu sudah mulai sedikit transaksinya, tapi pindah ke rural area. Karena di rural area itu less cash, bukan cashless. Jadi mereka masih ujungnya, ya, sudah transfer jaringan ke cash,” kata Rangga dalam kesempatan yang sama.
Berdasarkan paparan Rangga, PT ALTO Network didukung oleh jaringan yang luas, dengan lebih dari 70 juta kartu, sekitar 50 ribu ATM, serta keterhubungan dengan sekitar 50 persen bank digital di Indonesia. Hal ini menunjukkan semakin kuatnya ekosistem pembayaran digital yang terintegrasi dalam jaringan ALTO.
Selain mencatat pertumbuhan transaksi, ALTO juga memperoleh sejumlah pencapaian strategis. Di antaranya pengembangan tiga koneksi lintas negara (cross-border) melalui jaringan QRIS serta peningkatan adopsi pembayaran contactless baik untuk QRIS maupun kartu.
ALTO Perkenalkan Askara ConnectKemudian, Rangga menyatakan kini ALTO menghadirkan platform Askara Connect sebagai solusi terintegrasi yang menghubungkan seluruh anggota jaringan.
Platform ini dirancang untuk membantu klien dalam mengelola seluruh aktivitas transaksi dalam satu sistem terpadu, sehingga meningkatkan efisiensi dan visibilitas proses operasional.
“Nah yang kita lakukan kita menggabungkan itu jadi member gitu, ya, mau itu dari bisnis, teknologi, ataupun operation, mereka bisa akses (di aplikasi) ini,” kata Rangga.
Melalui Askara Connect, pengguna dapat memantau transaksi secara real-time, mengelola dispute dan klaim, melakukan settlement, menangani ticketing management, hingga mendeteksi potensi fraud. Dengan menggabungkan berbagai aplikasi operasional ke dalam satu platform, Askara Connect menghilangkan kebutuhan perpindahan antar sistem, sehingga memungkinkan tim operasional bekerja lebih cepat, terkoordinasi, dan memiliki visibilitas penuh terhadap seluruh proses transaksi.
“Makanya kita bikin mobile version, dan kita juga rencana menambahkan beberapa advantages. Jadi ada banyak sekali yang akan kita kembangkan ke depan. Tapi ini basically our main platform kita untuk mengkoneksikan member-member kita,” tutur Rangga.
Hingga Maret 2026, platform ini telah digunakan oleh sekitar 180 member, yang terdiri dari 31 persen bank dan 69 persen non-bank. Jumlah pengguna mencapai 715 user, mulai dari tim operasional hingga pengguna bisnis. Sistem ini juga mampu mengelola dan memantau hingga 16 kategori layanan, termasuk kanal ATM.





