JAKARTA, KOMPAS.com – Di tengah gerbong KRL yang bergerak dari Manggarai menuju Jakarta Kota, kursi prioritas menjadi saksi bisu interaksi manusia sehari-hari, antara hak, kebutuhan, dan empati yang kadang tak sejalan.
Bagi sebagian penumpang yang ditemui Kompas.com di Stasiun Manggarai, duduk di kereta bukan lagi sekadar kenyamanan, melainkan kesempatan yang harus direbut.
Bagi Fikri Maulana (25), kurir asal Jakarta Timur, kursi di KRL pada akhirnya adalah soal siapa cepat, dia dapat.
“Realitanya di lapangan ya begitu. Siapa cepat dia dapat,” ujar Fikri saat ditemui, Rabu (8/4/2026).
Fikri mengaku tidak terlalu memikirkan apakah kursi yang didudukinya termasuk kursi prioritas, terutama ketika tubuhnya sudah sangat lelah.
Baca juga: Kursi Prioritas KRL Jadi Rebutan, Rasa Lelah Sepulang Kerja Kaburkan Kesadaran
“Kadang tidak kepikiran juga itu kursi prioritas atau bukan. Yang penting bisa duduk sebentar,” tutur dia.
Meski terdengar cuek, ia tetap memiliki batas. Bila ada kondisi yang jelas terlihat, Fikri akan memberikan kursinya.
“Kalau lansia atau ibu hamil yang kelihatan jelas, pasti saya berdiri. Tapi kalau tidak kelihatan, ya saya tetap duduk,” jelasnya.
Perasaan serupa juga dialami Abdul Pratama (27), karyawan swasta dari Tangerang. Rutinitas panjang berangkat subuh dan pulang malam membuatnya lebih memprioritaskan kondisi fisik.
“Kursi di kereta itu jadi terasa kayak kursi umum. Siapa cepat dia dapat, apalagi kalau lagi capek banget,” ujar dia.
Sementara itu, Nisa Rahma (24), pegawai negeri di Jakarta Pusat, menyoroti dilema batin penumpang umum.
“Kadang kita tahu itu kursi prioritas, tapi badan sudah capek banget. Jadi ada dilema sendiri,” tutur Nisa.
Ia menambahkan, ketika melihat lansia atau ibu hamil, ia akan berdiri memberi kursi.
Baca juga: Lansia dan Bumil Kehilangan Haknya di KRL: Tak Dapat Kursi Prioritas, Terpaksa Berdiri
“Karena ya mereka jelas lebih butuh,” kata dia.
Arga Saputra (30), karyawan swasta di Jakarta Pusat, juga mengaku pernah duduk di kursi prioritas meski tidak termasuk kategori yang seharusnya.
“Kalau tidak ada yang menegur, ya saya anggap itu boleh saja,” ujarnya.
Menurut Arga, situasi di lapangan membuat aturan terasa tidak tegas.
“Kalau memang ada yang lebih butuh dan ngomong, ya saya kasih. Tapi kalau tidak, ya saya diam saja,” kata dia.
KOMPAS.com/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Para penumpang tampak beristirahat sembari menggunakan ponsel mereka di area kursi prioritas kereta di Stasiun Manggarai, Rabu (8/4/2026).
Sosiolog: Krisis Empati
Rakhmat Hidayat, sosiolog Universitas Negeri Jakarta, memandang fenomena ini sebagai masalah struktur sosial sekaligus krisis empati.