Alumni UGM Ini Teliti DNA Hewan Laut Purba Berusia 350.000 Tahun di Antarktika

kumparan.com
14 jam lalu
Cover Berita

Di usianya yang baru menginjak 25 tahun, Alumni Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Ezra Timothy Nugroho, menjejakkan langkahnya di salah satu tempat yang dikenal paling dingin di dunia yakni Antarktika.

Ia berangkat sebagai satu-satunya ilmuwan asal Indonesia dalam sebuah ekspedisi riset internasional yang dibiayai penuh oleh Pemerintah Australia.

Riset yang dilakukan pada Januari 2026 itu merupakan bagian dari tesis magisternya di Universitas Tasmania, Australia, berjudul 'Recovering Sedimentary Ancient DNA of Southern Ocean Molluscs from the Cook Region, East Antarctica'.

Metode yang digunakan adalah analisis Sedimentary Ancient DNA (sedaDNA), teknik untuk memulihkan fragmen DNA yang tersimpan dalam sedimen dasar laut selama ratusan ribu tahun.

"Hasilnya kami berhasil mengidentifikasi spesies-spesies moluska dari sampel berumur sekitar 6 sampai 350 ribu tahun yang lalu. Dan itu baru pertama kali, belum pernah ada yang mengerjakan tentang moluska," kata Ezra saat ditemui di UGM, Kamis (9/4).

12 Jam Kerja, Minus 30 Derajat, Tanpa Hari Libur

Selama hampir dua bulan di atas kapal riset Investigator, Ezra bekerja bersama sekitar 22 ilmuwan dari Australia, Norwegia, Inggris, Italia, dan Amerika Serikat, sebagian besar dosen, profesor, dan peneliti senior yang sudah berkali-kali melakukan ekspedisi serupa.

Kondisinya jauh dari mudah. Shift kerja 12 jam sehari tanpa libur, ditambah suhu yang saat badai menghantam bisa merosot hingga minus 30 derajat Celsius.

"Di sana pas Januari dan Februari itu musim panas. Jam 11 malam masih terang. Suhu sekitar minus 3 sampai minus 10, tapi kalau lagi badai bisa sampai minus 15, minus 30," ceritanya.

Misi Lebih Besar: Memprediksi Masa Depan Laut

Penelitian ini bukan sekadar menggali masa lalu. Ezra percaya, dengan memahami bagaimana moluska laut beradaptasi selama ratusan ribu tahun perubahan lingkungan, ilmu pengetahuan bisa memproyeksikan respons makhluk laut terhadap krisis iklim yang tengah berlangsung hari ini.

"Dari masa lalu kita bisa tahu cara mereka beradaptasi, dan kita bisa memprediksi, kalau di masa depan ada perubahan lingkungan lagi, mereka akan beradaptasi ke arah mana," jelas Ezra.

Riset itu kini berlanjut ke jenjang berikutnya. Ezra sedang mempersiapkan program doktoral di Universitas Tasmania menggunakan sampel sedimen yang ia bawa langsung dari Antarktika, dengan penelitian yang dijadwalkan dimulai Mei 2026.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Anggota DPR Desak Pengusutan Tuntas Dugaan Korupsi Tambang Ilegal PT AKT di Kalimantan Tengah
• 21 jam lalupantau.com
thumb
Beredar Surat Peralihan Status Nakes Non-ASN ke CPNS, PPPK Heboh, Kemenkes Menjawab
• 22 jam lalujpnn.com
thumb
Gibran Minta Sidang Kasus Andrie Yunus Transparan dengan Hakim Ad Hoc
• 13 jam lalujpnn.com
thumb
Komisi III DPR Ingatkan RUU Perampasan Aset Tak Abaikan Prinsip ‘Barang Siapa’
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Warta Ekonomi Gelar IDIA 2026: Dorong Inovasi Digital dan Daya Saing Industri
• 11 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.