Menteri Maman Ungkap Dampak Plastik Mahal terhadap UMKM

kumparan.com
11 jam lalu
Cover Berita

Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman mengungkap kenaikan harga bahan baku plastik mulai berdampak pada kenaikan ongkos produksi pengusaha UMKM.

Meski demikian, Maman melihat sebagian besar UMKM memilih untuk tidak langsung menaikkan harga jual produk mereka. Maman menjelaskan, pelaku UMKM cenderung menahan harga demi menjaga daya beli konsumen dan mempertahankan pasar. Konsekuensinya, margin keuntungan mereka tergerus.

“UMKM kan dia juga perlu menjaga harga barang mereka di mata masyarakat dan di mata pembeli. Jadi dia tetap harga dijaga sama dia, cuma akhirnya keuntungan mereka jadi menipis dong, karena cost produksi mereka menjadi naik, karena harga plastik ini naik gitu,” kata Maman di Kantor Kementerian UMKM, Kamis (9/4).

Maman mengatakan, Kementerian UMKM telah berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian untuk mencari solusi jangka pendek hingga jangka panjang.

“Sudah (ada laporan dari pengusaha UMKM) ini kan seminggu terakhir ini kan keluhan sudah banyak, makanya segera kita tindak lanjuti dengan Kementerian Perdagangan,” imbuhnya.

Salah satu opsi jangka pendek yang dilakukan pemerintah adalah dengan membuka opsi pasokan bahan baku plastik dari negara lain. Maman menyebut saat ini importasi nafta atau bahan baku plastik dari negara alternatif telah berjalan dalam proses administrasi.

“Alhamdulillah dari Pak Budi dan seluruh jajaran Eselon I dan Eselon II-nya sudah mulai menindaklanjuti untuk jangka pendeknya tadi itu dulu, mengambil supplier (nafta bahan baku plastik) dari beberapa negara lain, kayak tadi Afrika, India, Amerika,” jelas Maman.

Mau Kembangkan Kemasan dari Rumput Laut

Selain solusi jangka pendek, pemerintah juga menyiapkan strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada plastik berbahan impor nafta. Salah satunya dengan mendorong penggunaan bahan yang lebih ramah lingkungan.

Maman mengungkapkan, salah satu alternatif yang tengah dijajaki adalah pengembangan plastik berbahan dasar rumput laut. Menurut dia, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan bahan baku tersebut.

“Rumput laut itu juga sebetulnya bisa menjadi bahan baku plastik, cuma cost biaya produksinya tuh dianggap masih mahal karena marketnya sedikit,” ujarnya.

Dia meyakini, jika permintaan meningkat dan didorong melalui kebijakan, biaya produksi diyakini bisa ditekan.

Terlebih menurut dia saat ini, sudah ada sejumlah pelaku usaha kecil dan menengah yang memproduksi plastik berbahan rumput laut. Namun, sebagian besar produk mereka justru dipasarkan ke luar negeri yang lebih siap menerima produk ramah lingkungan.

“Kita akan panggil beberapa usaha-usaha kecil menengahnya, dan kita akan dorong dalam skala yang lebih besar lagi, supaya cost produksi plastiknya dari bahan baku rumput laut, dari singkong juga bisa, tapi yang sudah ada ini yang rumput laut,” tutupnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Realisasi ICP dan Kurs di Atas Asumsi APBN, Kemenkeu: Defisit Masih Aman
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
Diduga Transaksi Sabu, Pemuda di Bangka Selatan Ditangkap di Hotel
• 6 jam lalutvrinews.com
thumb
Panduan Lengkap Berkunjung ke GIICOMVEC 2026, Tiketnya Gratis!
• 8 jam lalumedcom.id
thumb
Pelaksanaan WFH Pemprov Lampung Tunggu SE Gubernur
• 13 jam lalutvrinews.com
thumb
Lebanon Darurat! Serangan Brutal Israel Langgar Janji Gencatan Senjata, Iran Sebut Pembantaian
• 16 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.