KESEPAKATAN gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat dinilai masih rapuh di tengah perbedaan pandangan dengan Israel terkait serangan di Libanon. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa konflik di kawasan Timur Tengah berpotensi kembali meluas.
Pakar ekonomi politik internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Faris Al-Fadhat, menyambut positif kesepakatan tersebut sebagai peluang awal menuju perdamaian. Namun, ia menilai realisasi di lapangan menunjukkan tantangan serius.
Menurut Faris, gencatan senjata selama dua pekan seharusnya dapat menjadi pintu masuk bagi negosiasi lebih mendalam untuk mengakhiri konflik. Meski demikian, hanya satu hari setelah kesepakatan diumumkan, sejumlah persoalan krusial langsung muncul.
Baca juga : Indonesia Kecam Keras Serangan Brutal Israel di Libanon
"Nah namun demikian baru satu hari kita melihat ada dua aspek yang mungkin ini memberatkan dan juga bisa atau sudah membuat perdamaian atau genjatan senjata ini gagal," kata Faris saat dihubungi Media Indonesia, Kamis (9/4).
Selat Hormuz Jadi Titik KeteganganFaris menjelaskan persoalan pertama berkaitan dengan belum adanya titik temu terkait pengelolaan Selat Hormuz.
"Yang pertama memang masih tidak adanya titik temu untuk mengelola Selat Hormuz," ujarnya.
Baca juga : Puluhan Tewas, Libanon Dilanda Gelombang Serangan Baru
Ia menilai Selat Hormuz merupakan wilayah strategis yang dipandang sebagai kepentingan politik Iran, sementara Amerika Serikat menuntut jalur pelayaran tersebut tetap dibuka.
"Di mana Selat Hormuz ini kan menjadi wilayah politik Iran, namun Amerika Serikat meminta untuk itu dibuka. Tapi kita lihat setelah genjatan senjata itu kan tidak ada yang berani untuk lewat," sebutnya.
Kondisi tersebut, menurut Faris, memicu ketidaknyamanan di pihak Amerika Serikat sekaligus memperlihatkan rapuhnya implementasi kesepakatan.
Serangan Israel di Libanon Perumit SituasiFaktor kedua yang memperumit situasi adalah eskalasi konflik di Libanon.
"Nah, yang kedua terkait dengan Libanon. Jadi Israel sudah melakukan serangan dan beritanya sudah menewaskan lebih dari 200 orang di Libanon," ujarnya.
Selain itu, tekanan Amerika Serikat terhadap Iran terkait pengembangan uranium juga dinilai memperkeruh suasana diplomatik.
"Ini yang mungkin menurut saya sudah membuat semakin rumit. Terlebih lagi Amerika Serikat berkali-kali mengatakan bahwa Iran tidak boleh untuk mengembangkan uranium," tuturnya.
Dengan berbagai faktor tersebut, Faris meragukan ketahanan kesepakatan gencatan senjata.
"Ini yang saya setuju bahwa kesepakatan ini tampaknya tidak bisa berumur panjang. Bahkan lebih dari satu hari pun tampaknya ini sudah tidak bisa," terangnya.
Dampak Global hingga Ekonomi DuniaFaris memperingatkan kegagalan kesepakatan berpotensi membawa kawasan kembali pada konflik terbuka dan meningkatkan ketidakpastian geopolitik.
"Kalau kita melihat gagalnya kesepakatan genjatan senjata ini, maka kita akan kembali lagi pada kondisi sebelumnya," ucapnya.
Ia menilai ketidakstabilan kawasan Timur Tengah akan berdampak luas terhadap stabilitas politik dan ekonomi global.
"Di mana suasana kawasan, terutama di negara-negara Arab Timur Tengah ini, menjadi tidak menentu," lanjutnya.
Menurutnya, dampak ekonomi konflik bersifat akumulatif dan telah berlangsung sejak lebih dari sebulan terakhir.
"Karena kita tidak bisa menilai bahwa dampak buruknya itu hanya hari ini saja. Tetapi sebenarnya ini kan sudah akumulasi dari sejak lebih dari sebulan yang lalu," sebutnya.
Faris juga memperingatkan potensi stagnasi ekonomi global akibat gangguan rantai pasok.
"Akan terjadi stagnasi ekonomi, pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan di awal tahun itu 2,6 sampai 3,3 persen akan sulit untuk dicapai karena gangguan dari rantai pasok global," lanjutnya.
Gangguan sektor energi, khususnya minyak, menurutnya juga akan berdampak pada investasi global.
"Karena terhambatnya energi seperti minyak ini bukan hanya kaitannya dengan konsumsi minyak saja, tetapi rentetannya dengan investasi," paparnya.
Ia menambahkan kekhawatiran investor di negara-negara Barat dapat meluas hingga sektor teknologi dan berbagai industri lain.
"Nah ini akan rentetannya itu akan sangat panjang. Nah inilah yang dikhawatirkan dari sisi ekonomi," ujarnya.
Dampak hingga IndonesiaDari sisi politik dan sosial, Faris menilai konflik berkepanjangan juga berdampak pada negara lain, termasuk Indonesia.
"Secara khusus misalnya kita di Indonesia. Semakin panjang konflik ini maka semakin tidak nyaman bagi kita. Untuk naik haji, untuk umrah, dan lain-lain itu orang-orang Indonesia menjadi sangat khawatir dan tidak nyaman," paparnya.
Ia menilai kunci penyelesaian konflik berada pada kemampuan Amerika Serikat mengendalikan Israel.
"Jadi kalau saya melihat, kuncinya kan ada di Amerika Serikat. Sebesar apa Amerika Serikat bisa mengontrol tujuannya," lanjutnya.
Menurut Faris, keberhasilan perdamaian sangat bergantung pada komitmen politik Washington.
"Hanya tadi, apakah komitmen pemerintahan Amerika itu ingin bisa menyelesaikan konflik ini dengan damai atau tidak. Itu saja sebenarnya," pungkasnya. (Fer/I-1)





