Kusen (61 tahun), penjaga Incinerator Keputih menyebut bahwa sejak 9 September 1999 silam, gedung pembakar sampah itu tidak lagi beroperasi sampai saat ini.
Incinerator yang dilengkapi alat-alat operasional pembakaran sampah beserta tumpukan sampahnya itu, ditinggalkan begitu saja. Sejak saat itu gedung yang semula dijaga ketat oleh security PT Unicomindo Perdana itu, bahkan berganti dijaga almarhum Kamari, ayah angkat Kusen.
“Saya anak angkat Pak Kamari, menggantikan Pak Kamari sejak 2001, karena Pak Kamari meninggal,” ungkapnya saat ditemui suarasurabaya.net di lokasi, Kamis (9/4/2026).
Sudah 20 tahun lebih ia bersama keluarganya dan istri almarhum Kamari tinggal di bekas mess karyawan gedung itu hingga kini. Tanpa perawatan, tanpa aliran listrik, dan tak ada lagi pengecekan dari perusahaan.
“Alat sudah tidak berfungsi berkarat semua. Selama saya disini sampai sekarang enggak ada listrik sama sekali. Sampah-sampah masih ada, belum diambil ditinggal gitu aja,” bebernya.
Selain itu tak ada upah juga yang diterimanya dari perusahaan, layaknya yang dulu pernah diterima Kamari sebelum meninggal, yakni sebesar Rp750 ribu per bulan.
“Sejak bapak pemilik gedung meninggal, enggak pernah dibayar lagi,” ungkapnya.
Kini, ia hanya membantu menjaga gedung yang masih menyimpan alat-alat operasional itu secara sukarela tanpa bayaran.
Meski demikian, saat ditanya terkait polemik PT Unicomindo Perdana dengan Pemkot Surabaya dan kemungkinan jika aset lahan milik pemkot ini akan dipakai, ia mengaku bersedia jika harus pergi meninggalkan kawasan ini.
Ia hanya berharap, pihak perusahaan datang menemui istri almarhum Kamari, mantan penjaga gedung ini pascatutup.
“Imbal baliknya aja datang ke sini, minta maaf sama Mbok Ri (istri Pak Kamari), terus kalau (tanah ini) dipakai kan (kami) harus kabur (meninggalkan tempat ini), (harapannnya ada pemberian) biaya hidup,” tandasnya. (lta/bil/ham)




