BOGOR, KOMPAS.com — Layanan bus listrik KaBogor yang diluncurkan Pemerintah Kabupaten Bogor digadang-gadang menjadi alternatif transportasi ramah lingkungan bagi masyarakat.
Namun, operasional yang masih menggunakan jalur umum membuat laju bus sangat bergantung pada kondisi lalu lintas, sehingga berpotensi mengganggu ketepatan waktu perjalanan.
Saat ini, bus listrik KaBogor masih beroperasi di jalur umum yang sama dengan kendaraan lain. Hal ini membuat laju bus sangat bergantung pada kondisi lalu lintas di lapangan.
Layanan bus listrik KaBogor melintasi kawasan Pasar Bojonggede yang dipadati pedagang kaki lima dan kendaraan yang parkir di pinggir jalan, sehingga perjalanan kerap tersendat.
Baca juga: Menjajal Bus Listrik KaBogor, Penumpang Usulkan Kursi Prioritas dan Halte yang Lebih Layak
Kondisi serupa biasanya terjadi di perlintasan kereta Gaperi, Bojonggede.
Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan Kabupaten Bogor Dadang Kosasih menyebutkan, Pemkot masih berupaya menjaga layanan tetap optimal meski menghadapi keterbatasan tersebut.
Dadang mengatakan, di tengah kondisi lalu lintas yang tidak menentu, menjaga ketepatan jadwal menjadi tantangan tersendiri.
“Kami berkomitmen menjaga jadwal agar tetap konsisten. Namun, karena karakteristik lalu lintas di wilayah tersebut dinamis, Dishub juga menyiapkan sistem fleksibilitas waktu keberangkatan yang menyesuaikan kondisi lapangan, tanpa mengurangi kepastian layanan bagi pengguna,” kata Dadang dalam pesan WhatsApp, Kamis (9/4/2026).
Jalur khusus masih dalam kajianDadang juga mengatakan, ke depan pihaknya membuka kemungkinan penerapan jalur khusus untuk meningkatkan kelancaran operasional bus listrik.
Namun, rencana tersebut masih dalam tahap kajian dan membutuhkan pertimbangan matang, terutama terkait ketersediaan ruang jalan.
Baca juga: Viral Bus Listrik Metrotrans Potong Jalan dan Terobos Lampu Merah di Gandaria
“Dalam jangka panjang, Dishub terus mengkaji kemungkinan penerapan jalur khusus agar operasional bus lebih lancar dan terpisah dari kendaraan umum lainnya,” ujarnya.
“Namun, realisasinya tentu bergantung pada ketersediaan ruang jalan serta koordinasi dengan instansi terkait. Jadi, untuk saat ini, kami masih memaksimalkan efisiensi di jalur campuran yang ada,” lanjut dia.
Untuk memastikan layanan tetap berjalan sesuai harapan, pihaknya mengandalkan sistem monitoring yang mencakup evaluasi performa operasional dan kepuasan penumpang.
Di sisi lain, pengembangan layanan juga mulai disiapkan melalui rencana penambahan armada dan perluasan rute.
“Perluasan rute dan penambahan armada menjadi bagian dari rencana pengembangan jangka menengah,” ujarnya.
Tanpa jalur khusus, bus tetap terjebak macetPengamat transportasi Dedy Herlambang menilai operasional bus listrik yang masih bercampur dengan kendaraan umum membuatnya sulit lepas dari kemacetan.
Menurut dia, tanpa jalur khusus, bus akan menghadapi kondisi lalu lintas yang sama seperti kendaraan lainnya, sehingga berdampak pada ketepatan waktu layanan.
Baca juga: Momen Prabowo Jajal Bus Listrik Transjakarta Sebelum Resmikan Pabrik di Magelang
“Bus tetap akan macet bila jalan di jalan umum tidak jalan di lajur khusus atau busway seperti TransJakarta,” ujarnya saat dihubungi, Rabu.





