Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran terancam batal usai Israel meluncurkan serangan udara besar-besaran di Beirut, Lebanon pada Kamis,09 April 2026.
Iran mengancam jika Israel terus melakukan serangan maka mereka akan menarik diri dari perjanjian gencatan senjata dengan AS.
“Iran akan menarik diri dari perjanjian tersebut jika pelanggaran gencatan senjata oleh rezim Zionis terus berlanjut melalui serangan terhadap Lebanon,” kata pihak Iran tersebut kepada kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim.
Pihak Iran menyebut jika gencatan senajata ini tidak hanya di Iran, tapi termasuk juga Lebanon, kesepakatan ini telah diterima oleh AS berdasarkan rencana gencatan senjata dua minggu yang diusulkan.
Dari sumber yang berbeda Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, juga menilai rencana pembicaraan “tidak masuk akal” karena Washington dianggap melanggar tiga dari 10 syarat Teheran.
Disisi lain AS dan Israel menyatakan kesepakatan tersebut tidak mencakup konflik di Lebanon. Presiden AS Donald Trump menyebut situasi di Lebanon sebagai "konflik yang terpisah.
Dilain pihak Perdana Menteri Pakistan, sebagai mediator, menyatakan bahwa kesepakatan berlaku “di mana saja, termasuk Lebanon dan wilayah lain.”
Israel Bombardir Lebanon, Selat Hormuz Kembali TutupSementara itu Lebanon News Agency (NNA) pada Kamis melaporkan jika jet-jet tempur Israel melakukan serangan udara di beberapa kota, termasuk Kafra, Jmaijmeh, Safad al-Battikh, Majdal Selm, Deir Antar, serta daerah sekitar jembatan Qasmiyeh.
Serangan tersebut dilakukan bersamaan dengan penembakan artileri yang menargetkan kota Haris. Dalam serangan tersebut sedikitnya 254 orang tewas dan 1.165 lainnya terluka akibat serangan Israel di seluruh Lebanon, termasuk Beirut, menurut Pertahanan Sipil Lebanon.
Dalam laporan terpisah serangan Israel di kota Zrariyeh menewaskan lebih dari 10 orang, termasuk perempuan dan anak-anak, setelah menargetkan bangunan tempat tinggal.
Akibat ulah Israel ini, Iran dikabarkan akan kembali menutup Selat Hormuz, jalur laut penghubung Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab itu. Situasi ini tentu akan membuat jalur strategis pengiriman minyak dunia kembali macet dan memicu ketegangan baru di kawasan.
Namun sampai berita ini dinaikkan pihak Iran belum memberikan pernyataan resmi terkait penutupan kembali Selat Hormuz.
Baca Juga:Purbaya Tegaskan Tak ada Pembelian Motor Listrik Tahun Ini Bagi SPPG, Klaim Anggaran Lolos Sebelum Ia Jadi Menteri





