Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah sektor industri nasional mulai merasakan dampak langsung dari eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya memanasnya tensi antara Amerika Serikat dan Iran.
Tekanan terutama berasal dari kenaikan harga energi global, yang kemudian merembet ke biaya bahan baku, logistik, hingga produksi di berbagai sektor. Pada akhirnya, tingginya ongkos produksi ini akan berimbas pada naiknya harga jual produk ke konsumen.
Berikut rangkuman Bisnis mengenai deretan industri dalam negeri yang mulai terdampak perang Iran dengan Amerika Serikat-Israel:
Deretan Industri Terdampak Perang Iran 1. TekstilIndustri tekstil dan produk tekstil (TPT) menjadi salah satu yang paling terdampak. Kenaikan harga minyak dunia mendorong lonjakan harga bahan baku berbasis petrokimia seperti paraxylene (PX) dan monoethylene glycol (MEG). Kondisi ini diperparah oleh ketergantungan impor bahan baku dari kawasan Timur Tengah sehingga risiko gangguan pasokan turut meningkat.
Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta menyebut, harga paraxylene saat ini telah mencapai US$1.300 per ton atau melonjak sekitar 40% dalam 2 pekan terakhir. Meski kenaikan harga tersebut belum sepenuhnya dirasakan oleh industri hilir, efek berantai (domino effect) diprediksi akan berlangsung secara bertahap dalam beberapa pekan ke depan.
“Harga PX, PT dan MEG-nya sudah naik 40%, jadi untuk polyester juga naik sekitar 40%. Dalam satu minggu ke depan, kenaikan harga ini akan terdistribusi ke produsen kain dan dua minggu berikutnya akan berdampak ke sektor pakaian jadi,” ujar Redma kepada Bisnis, Selasa (31/3/2026).
Baca Juga
- Pemprov Jabar Cari Alternatif Pasokan Bahan Baku Plastik ke AS dan India
- Krisis Plastik, Kementerian UMKM Siapkan Rumput Laut Jadi Alternatif Nafta
- Menteri Maman Blak-blakan Dampak Lonjakan Harga Plastik ke UMKM
Selain itu, industri petrokimia dan plastik juga menghadapi tekanan serupa. Harga bahan baku yang mengikuti pergerakan minyak mentah global mengalami kenaikan sehingga membebani struktur biaya produksi.
Pelaku industri di sektor hilir pun berpotensi mengalami penurunan margin akibat kenaikan tersebut.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono mengatakan bahwa industri plastik domestik masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap pasokan dari Timur Tengah.
Dia menambahkan, sekitar 70% bahan baku industri plastik nasional masih berasal dari kawasan tersebut sehingga gejolak geopolitik memiliki dampak signifikan terhadap rantai pasok dalam negeri.
3. Industri PlastikAsosiasi Produsen Plastik Hilir Indonesia (Aphindo) mencatat lonjakan harga bahan baku plastik sudah merembet ke tingkat konsumen. Hal ini seiring dengan penutupan Selat Hormuz akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu kelangkaan bahan baku plastik yang diikuti lonjakan harga hingga 50%.
Ketua Umum Aphindo Henry Chevalier berpandangan kondisi ini berpotensi memicu inflasi yang lebih luas, di tengah daya beli masyarakat yang sudah melemah.
Dia menjelaskan kenaikan biaya bahan baku plastik ini secara otomatis mengerek biaya produksi industri hilir, yang kemudian diteruskan ke harga produk akhir seperti kemasan makanan dan minuman (mamin), hingga produk farmasi.
“Kantong-kantong kresek saja yang tadinya harga berapa, sekarang sudah naik hampir 50% harganya,” ujar Henry saat dihubungi Bisnis, Minggu (5/4/2026).
Kenaikan harga dan langkanya pasokan plastik juga dikeluhkan oleh pedagang-pedagang di daerah. Misalnya, pasokan plastik di sejumlah toko di Kota Padang, Sumatra Barat mulai menipis.
Pelaku usaha Toko Elok Plastik di Padang, Leni mengatakan bahwa secara umum harga berbagai jenis plastik mengalami kenaikan, mulai dari 15% hingga 100%. Di sisi lain, produsen juga tak lagi memenuhi permintaan pasokan dari toko.
“Stok di toko ini sebenarnya mulai menipis, tidak ada lagi produsen yang menghantarkan ke toko, padahal kami sudah mengajukan permintaan. Soal harga memang lagi naik, terutama untuk jenis plastik kebutuhan sehari-hari,” katanya, Selasa (7/4/2026).
Dia menjelaskan untuk plastik yang mengalami kenaikan harga 100% yakni jenis polipropilena (PP) yang bening, kaku, dan tahan lembab, dengan ukuran populer 250gr, 500gr, hingga 1 kg. Plastik jenis ini biasanya digunakan untuk membungkus minyak goreng curah, gula pasir, tepung, dan beberapa kebutuhan lainnya.
“Plastik bening ini harganya Rp25.000 hingga Rp30.000 per kilogram tergantung ukuran, dan sekarang harganya itu Rp45.000 hingga Rp50.000 per kilogram,” jelasnya
Pedagang plastik di Pasar Johar Semarang, Maya, juga menyebutkan bahwa kenaikan paling tinggi terjadi pada jenis plastik kiloan dan wadah plastik thinwall.
“Sekarang ini yang paling tinggi itu dari plastik kiloan dan plastik timbul thinwall yang biasa untuk tempat nasi,” tutur Maya saat ditemui di tempat dagangnya, Minggu (05/04/2026).
Maya juga menjelaskan bahwa lonjakan harga pada berbagai jenis plastik ini terjadi cukup drastis dalam waktu singkat.
“Untuk plastik kiloan itu sebelum harganya naik itu hanya Rp3.000, sekarang dari pusat sudah Rp5.000 untuk satu bungkus. Kalau untuk thinwall sendiri lebih tinggi lagi harganya. Sebelum naik itu untuk thinwall yang ukuran paling rendah itu biasanya dijual harga Rp25.000, sekarang dari sana sudah menyentuh Rp40.000,” tambahnya.
Selain plastik kiloan dan thinwall, Maya juga mengungkap bahwa jenis plastik lainnya juga turut alami kenaikan harga. Dia mencontohkan, plastik kresek curah hitam yang biasanya dijual Rp10.000 kini naik menjadi Rp15.000.
“Terus untuk plastik cup itu juga naik bertahap setelah lebaran ya, biasanya buat cup jumbo itu harganya Rp15.000-16.000 sekarang harganya bisa sampai Rp21.000-25.000,” ungkapnya.
4. Air Minum Dalam KemasanSementara itu, Ketua Umum Asosiasi Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (Amdatara) Karyanto Wibowo mengatakan, harga bahan baku kemasan dalam beberapa kasus mencapai hingga 100% dalam waktu singkat. Kondisi ini dinilai bukan lagi sekadar fluktuasi, melainkan tekanan struktural terhadap industri.
Dia memperkirakan kenaikan biaya bahan baku itu akan mendorong harga kemasan naik sekitar 25% hingga 50%, tergantung jenis material dan skala produksi. Dampaknya, harga jual produk air minum dalam kemasan (AMDK) berpotensi ikut meningkat, terutama bagi produsen kecil dan menengah yang memiliki keterbatasan likuiditas.
“Hal ini tidak hanya mengancam kelangsungan ribuan usaha dan puluhan ribu lapangan kerja, tetapi juga berpotensi mengganggu akses masyarakat terhadap air minum aman,” kata Karyanto.
Kenaikan harga plastik ini juga bisa merambah ke industri kosmetik. Pasalnya, mayoritas kemasan produk kosmetik menggunakan plastik. Produksi pun diprediksi terganjal lantaran 80% bahan baku kosmetik terbilang impor
Secara keseluruhan, eskalasi konflik di Timur Tengah menciptakan efek berantai terhadap industri nasional. Kenaikan harga energi menjadi pemicu utama yang berdampak luas, mulai dari bahan baku hingga distribusi. Pelaku usaha kini dihadapkan pada tantangan menjaga efisiensi dan stabilitas operasional di tengah ketidakpastian global yang masih berlanjut.





