JAKARTA, DISWAY.ID - Israel hanya membutuhkan waktu 10 menit untuk melakukan salah satu pembantaian massal di Lebanon sejak berakhirnya perang saudara negara itu pada tahun 1990.
Laporan The Guardian, salah satu saksi yakni Omar Rakha mendengar pesawat tempur, tetapi tidak merasakan ledakan.
Lalu baru ketika ia terbangun dalam posisi tengkurap di jalan, dan ia berdarah, barulah menyadari apa yang telah terjadi.
Gedung di sebelah rumahnya di kawasan Barbour, Beirut tengah, telah dihancurkan oleh dua bom Israel.
BACA JUGA:Serangan Israel ke Lebanon Makin Brutal, Inggris Tak Tinggal Diam!
Ia kemudian berlari melewati puing-puing yang terbakar untuk mencari saudara perempuannya, sambil berteriak.
Shaden Fakih, seorang pelatih calisthenics berusia 24 tahun, juga berlari menuju lokasi ledakan.
Temannya, Mahmoud berada di dalam gedung yang terkena serangan.
Ia hanya bisa mendekat sampai batas tertentu; gedung bertingkat itu telah menjadi tumpukan puing yang terbakar.
BACA JUGA:Pedagang Kaki Lima Resah! Harga Plastik Terus Naik Imbas Konflik Israel-AS dan Iran
Fakih mulai menarik orang-orang keluar dari apartemen di depan lokasi, menggendong seorang perempuan tua yang tidak bisa berjalan.
Dr. Ghassan Abu-Sittah berada di ruang gawat darurat ketika para korban mulai berdatangan.
Di antara yang terluka ada anak-anak yang ditarik dari bawah reruntuhan; banyak yang datang sendirian, tanpa orang tua, identitas mereka tidak diketahui.
"Yang paling muda berusia 11 bulan. Saya harus mengoperasinya hanya untuk mengurangi tekanan di kepalanya,” kata Abu-Sittah, yang bekerja sebagai ahli bedah di American University of Beirut Medical College (AUBMC).
BACA JUGA:Iran Luncurkan Serangan Terbesar ke Israel Setelah Trump Sebut Berhasil Preteli Kekuatan Militer Iran
- 1
- 2
- »





