UPAYA meningkatkan literasi keuangan di kalangan generasi muda terus diperkuat seiring pesatnya perkembangan layanan keuangan digital. Salah satunya dilakukan KrediOne melalui partisipasi dalam program edukasi 'Pindar Mengajar: Cerdas Mengelola, Bijak Bertransaksi' di Universitas Riau.
Kegiatan yang diikuti lebih dari 200 mahasiswa tersebut merupakan kolaborasi antara Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), Universitas Riau, serta pelaku industri pendanaan digital (pindar). Sejumlah pemangku kepentingan turut hadir, antara lain Kepala OJK Provinsi Riau Triyoga Laksito, Direktur Eksekutif AFPI Yasmine Meylia, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Riau Alvi Furwanti Alwie, serta perwakilan KrediOne.
Direktur Utama KrediOne Kuseryansyah menegaskan bahwa literasi keuangan kini menjadi kebutuhan mendasar di tengah akselerasi inovasi sektor finansial.
Baca juga : Suami Gen Z Lebih Melek Finansial? Ini Fakta Baru Perencanaan Keuangan Keluarga Pasangan Muda
"Literasi keuangan hari ini bukan lagi sekadar pemahaman, tetapi kompetensi strategis. Di tengah percepatan inovasi finansial, kemampuan membaca peluang sekaligus mengelola risiko secara terukur menjadi pembeda antara akses yang memberdayakan dan yang justru menimbulkan kerentanan," ucap dia dikutip dari siaran pers yang diterima, Kamis (9/4).
Ia menambahkan, meluasnya akses terhadap layanan keuangan digital harus diimbangi dengan kualitas pengambilan keputusan yang matang. Tanpa literasi yang memadai, akses keuangan justru berpotensi menimbulkan risiko baru bagi masyarakat.
"Akses keuangan tanpa literasi adalah pedang bermata dua. Karena itu, setiap keputusan finansial harus diambil secara sadar, terukur, dan bertanggung jawab," katanya.
Baca juga : BFN Fest 2025 Hadirkan Babak Baru Ekosistem Fintech Indonesia
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pemahaman komprehensif mengenai perkembangan industri keuangan digital, termasuk manfaat layanan pindar, potensi risiko, serta perbedaannya dengan praktik pinjaman online ilegal.
KrediOne juga menekankan bahwa peran industri tidak hanya sebatas menyediakan akses pembiayaan, tetapi turut membangun ekosistem keuangan yang sehat dan berkelanjutan.
"Pindar kami posisikan bukan sekadar instrumen pembiayaan, tetapi bagian dari ekosistem keuangan yang sehat. Transparansi, akuntabilitas, dan perlindungan konsumen adalah fondasi utama. Melalui edukasi berkelanjutan, kami ingin memastikan pertumbuhan industri berjalan selaras dengan peningkatan kualitas pemahaman masyarakat," lanjut Kuseryansyah.
Partisipasi ini sekaligus menjadi bentuk dukungan terhadap program Gerakan Nasional Cerdas Literasi Keuangan (Gencarkan) yang diinisiasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Melalui sinergi antara regulator, asosiasi, akademisi, dan pelaku industri, literasi keuangan diharapkan semakin meluas, khususnya di kalangan generasi muda.
KrediOne meyakini penguatan literasi keuangan akan melahirkan generasi yang tidak hanya cakap dalam mengelola keuangan, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi digital yang inklusif dan berkelanjutan di Indonesia. (Fal/E-1)





