Bisnis.com, JAKARTA – Sentimen negatif telah menggerus total dana kelolaan/Asset Under Management (AUM) industri reksa dana RI. Namun, selalu ada harapan dari manajer investasi (MI) agar kondisi pasar keuangan global menjadi membaik.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan total dana kelolaan industri reksa dana Tanah Air susut 2,49% sepanjang Maret 2026 menjadi Rp699,64 triliun. Realisasi itu menurun jika dibandingkan total AUM yang tumbuh pada Februari 2026 menjadi Rp717,55 triliun.
Padahal, kondisi pasar modal Tanah Air sebetulnya telah mencatatkan pelemahan sejak Februari 2026. Kala itu, MSCI Inc membekukan rebalancing saham Tanah Air dalam indeks mereka dan sontak membuat IHSG ambles berjilid-jilid.
Selepas MSCI, sejumlah lembaga keuangan global juga menurunkan outlook terhadap utang Indonesia menjadi negatif. Hal itu turut menekan kinerja pasar SBN Tanah Air, dengan yield melemah 1,26% selama Februari hingga terkoreksi 8,34% year-to-date (YtD).
Namun, pada Februari 2026, kinerja pasar reksa dana Tanah Air tampak masih resilien. Data OJK menunjukkan bahwa masih terdapat pertumbuhan total dana kelolaan industri reksa dana sebesar 1,58% pada Februari.
Memasuki Maret 2026, kondisi pasar keuangan global memburuk. Perang yang berkecamuk antara Iran—AS & Israel telah membuat investor global memasang sikap risk-off terhadap pasar investasi dan melarikan dananya ke aset safe haven seperti emas atau dolar AS.
Baca Juga
- Waktu Tepat Terjun ke Investasi Global via Reksa Dana Offshore
- Strategi Manulife Racik Reksa Dana di Tengah Volatilitas Pasar
- Reksa Dana Sukuk Kian Diserbu
Hal itu membuat pasar modal Indonesia kian tertekan. Sepanjang tahun ini, pasar saham telah mencatatkan net sell asing senilai Rp35,59 triliun dan senilai Rp22,51 triliun di pasar SBN. IHSG akhirnya terkoreksi 15,49% YtD dan yield SBN tercatat melemah ke level 6,70% hari ini, Kamis (9/4/2026).
Kondisi pasar yang melemah juga membuat investor berbondong-bondong pergi dari instrumen reksa dana berisiko. Sepanjang Maret 2026, data OJK menunjukkan penurunan 8,45% pada reksa dana saham, 5,44% pada RDPT, 7,02% pada reksa dana indeks, 5,60% pada reksa dana campuran, dan 6,20% pada reksa dana sukuk.
Sebaliknya, reksa dana pasar uang (RDPU) justru tercatat tumbuh 4,38% pada Maret 2026, menjadi yang tertinggi di antara seluruh aset reksa dana yang tercatat di OJK. Hal ini menunjukkan bahwa kendati investor tengah bersikap risk off terhadap pasar investasi, tetapi tidak semua investor menarik dananya dari pasar modal dan memilih stay invested.
Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management (HPAM) Reza Fahmi, menerangkan saat ini, pasar modal Tanah Air tengah berada dalam fase adjustment. Artinya, investor dinilai tengah melakukan proses ripricing risiko di tengah beragam sentimen yang ada.
Terhadap pasar saham, Reza menilai tekanan jangka pendek masih berisiko terjadi, terutama lantaran dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti ketidakpastian global dan sikap investor yang lebih selektif terhadap aset berisiko. Sementara dalam jangka menengah hingga panjnag, fundamental pasar saham domestik dinilai relatif kuat dan memiliki valuasi yang kian menarik selepas koreksi sepanjang tahun berjalan 2026.
Terhadap pasar obligasi, Henan memandang outlook yang relatif stabil, dengan SBN dan obligasi korporasi tetap menjadi komponen utama dalam portofolio perusahaan. Menggunakan pendekatan yang mengintegrasikan analisis suku bunga, likuiditas, dan risiko kredit yang matang, Henan menyebut hal ini memungkinkan produk RDPT tetap defensif, tetapi optimal dalam menelurkan imbal hasil.
Di tengah kondisi ini, Henan menerapkan pendekatan yang memungkinkan portofolio reksa dana tetap adaptif terhadap perubahan siklus, sekaligus menjaga potensi alpha dalam berbagai kondisi pasar yang kian tidak menentu ke depannya.
”Dalam fase risk-off, Henan tidak hanya bersikap defensif, tetapi mengoptimalkan fleksibilitas strategi melalui pendekatan multistrategi yang mencakup long bias, contrarian value, beta management, dan momentum,” katanya ketika dihubungi Bisnis, Kamis (9/4/2026).
Terhadap RDPT, strategi difokuskan memilih surat utang melalui pengelolaan durasi yang aktif serta seleksi yang ketat. Henan memperpendek durasi obligasi untuk meredam sensitivitas arah suku bunga, sekaligus memperbesar eksposur pada SBN dan obligasi korporasi yang memiliki fundamental solid.
Sementara terhadap reksa dana saham, strategi long bias diarahkan pada saham yang memiliki daya tahan terhadap volatilitas siklus. Di satu sisi, contrarian value dimanfaatkan untuk mengakumulasi saham undervalued dengan fundamental solid.
”Beta management digunakan untuk mengatur eksposur pasar secara keseluruhan, sementara momentum dimanfaatkan secara selektif pada saham dengan tren kuat yang didukung oleh fundamental,” katanya.
Di satu sisi, Direktur Batavia Prosperindo Aset Manajemen (BPAM) Eri Kusnadi, menerangkan bahwa di tengah kondisi saat ini, pihaknya masih melakukan pengelolaan reksa dana sesuai dengan mandat yang ada.
Terhadap reksa dana saham, Batavia Prosperindo lebih berfokus pada earning visibility yang tinggi dan mampu bertahan dari kondisi saat ini. Dia memberikan contoh saham komoditas yang cenderung diuntungkan lewat kian panasnya harga energi.
”Untuk obligasi, kami memendekkan durasi govies dan mempertahankan seleksi pada good quality corporate bonds,” tegasnya kepada Bisnis, Kamis (9/4/2026).





