Serangan Israel ke Lebanon berdampak pada aktivitas di Selat Hormuz. Jalur laut penghubung Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab itu kembali ditutup Iran.
Militer Israel melancarkan serangan ke wilayah Lebanon hingga menewaskan 112 orang. Serangan itu juga melukai ratusan orang lainnya di Lebanon.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz pasukannya melakukan serangan yang menargetkan ratusan anggota Hizbullah di seluruh Lebanon.
"IDF melakukan serangan mendadak terhadap ratusan anggota Hizbullah di pusat-pusat komando di seluruh Lebanon. Ini adalah pukulan terkonsentrasi terbesar yang diderita Hizbullah sejak Operasi Beepers," kata Katz dalam pernyataan video, merujuk pada operasi besar tahun 2024 terhadap Hizbullah yang melibatkan bom pager dilansir AFP, Rabu (8/4/2026).
Israel melancarkan serangkaian serangan di Beirut pada Rabu (8/4), menyebabkan kepanikan di antara penduduk dalam serangan paling keras di ibu kota sejak awal perang dengan Hizbullah.
Militer Israel mengatakan telah melakukan "serangan terkoordinasi terbesar di seluruh Lebanon". Israel bersikeras bahwa gencatan senjata dua minggu dalam perangnya dengan Iran tidak berlaku untuk Lebanon.
Dilansir CNN, Kamis (9/4/2026), Kementerian Kesehatan Lebanon mengatakan serangan Israel di berbagai wilayah negara, termasuk ibu kota Beirut, telah menewaskan sedikitnya 112 orang, menurut data sementara terbaru. Sebanyak 837 orang lainnya terluka dalam serangan hari ini, menurut kementerian tersebut.
Selat Hormuz Ditutup Iran Lagi
Otoritas Iran dilaporkan menutup kembali Selat Hormuz menyusul serangan militer Israel di Lebanon terhadap kelompok militan Hizbullah yang didukung Iran. Penutupan itu dilaporkan media pemerintah Iran, Fars.
Dua kapal tanker berhasil melewati selat tersebut, yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, menurut Marine Traffic, sebuah layanan pelacakan kapal.
Kapal milik Yunani, NJ Earth, dan kapal berbendera Liberia, Daytona Beach, berhasil melewati selat tersebut, kapal pertama yang melintasi jalur air strategis tersebut sejak gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran diumumkan.
Penutupan selat tersebut terjadi bersamaan dengan serangan militer Israel di Lebanon pada hari Rabu, yang menewaskan ratusan orang.
Dilansir The Hill, Kamis (9/4/2026), ketika ditanya tentang laporan penutupan Selat Hormuz dari kantor berita Fars, Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan laporan tersebut "palsu."
"Presiden telah mengetahui laporan tersebut sebelum saya naik ke podium, itu sama sekali tidak dapat diterima dan sekali lagi, ini adalah kasus di mana apa yang mereka katakan secara publik berbeda dengan apa yang mereka katakan secara pribadi," kata Leavitt kepada wartawan. "Kita telah melihat peningkatan lalu lintas di selat hari ini," imbuhnya.
(idn/idn)





