Trotoar Stasiun Batu Ceper Tangerang Sempat Jadi Parkir Liar, Kini Kosong Usai Viral

kompas.com
3 jam lalu
Cover Berita

TANGERANG, KOMPAS.com - Trotoar di sekitar Stasiun Batu Ceper, Poris Plawad, Kota Tangerang, yang sempat dipenuhi parkir liar sepeda motor, kini tampak bersih setelah videonya viral di media sosial.

Meski demikian, penataan yang dilakukan pemerintah dinilai belum sepenuhnya menjawab persoalan kenyamanan dan keselamatan pejalan kaki.

Baca juga: Viral Trotoar di Stasiun Batu Ceper Jadi Parkir Liar, Pejalan Kaki Tak Bisa Melintas

Trotoar penuh motor

Sebuah video yang diunggah akun Instagram @abouttng memperlihatkan trotoar di kawasan tersebut dipadati sepeda motor yang parkir rapi hingga menutup seluruh akses pejalan kaki.

Dalam video itu, tidak ada ruang sedikit pun bagi warga untuk melintas di atas trotoar.

Akibatnya, pejalan kaki terpaksa berjalan di bahu jalan yang dipenuhi kendaraan melintas.

Kondisi tersebut memicu keluhan warganet karena trotoar yang seharusnya menjadi ruang aman bagi pejalan kaki justru beralih fungsi menjadi area parkir.

Parkir liar lenyap usai viral

Setelah viral, parkir liar di lokasi tersebut kini sudah tidak terlihat. Berdasarkan pantauan Kompas.com di lokasi, Kamis (9/4/2026), trotoar telah dipasangi barrier beton berwarna kuning.

Setidaknya lima barrier beton dipasang melintang di tengah trotoar untuk mencegah kendaraan kembali parkir di area tersebut.

Meski trotoar terlihat lebih tertib, keberadaan barrier justru dinilai mengurangi ruang gerak pejalan kaki.

“Sekarang sudah enggak ada motor parkir, jadi lebih rapi. Tapi jalannya jadi sempit karena ada beton ini,” ujar Widya (27), salah satu pejalan kaki saat ditemui di lokasi.

Ia berharap penataan dilakukan lebih optimal agar tidak kembali mengorbankan kenyamanan pengguna trotoar.

Baca juga: Usai Viral Jadi Parkir Liar, Trotoar Stasiun Batu Ceper Kini Dipasang Barrier Beton

Akses parkir resmi yang berbahaya

Di balik praktik parkir liar, warga mengungkapkan adanya persoalan akses menuju lokasi parkir resmi yang dinilai berisiko.

Bambang (47), pengguna KRL, mengatakan pengendara harus menyeberang jalan besar dengan arus lalu lintas yang banyak dilewati truk dan bus.

Tidak hanya itu, bahkan truk dan bus melintas dijalan tersebut dengan kecepatan yang kencang.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

“Kadang tuh memang malas jalannya aja karenakan harus nyebrang dua kali. Masalahnya mobil yang lewat itu gede-gede banget terus juga kenceng banget jalannya,” kata Bambang.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kemenhaj-Polri Sepakat Bentuk Satgas Cegah Praktik Haji Ilegal
• 22 jam lalukompas.com
thumb
Peran industri dinilai strategis terhadap pajak kripto Rp1,96 triliun
• 19 jam laluantaranews.com
thumb
Komdigi Siapkan Lelang Dua Spektrum Frekuensi untuk Pemerataan Layanan 4G dan 5G
• 15 jam lalukompas.id
thumb
Tim Khusus Polda Babel Dibentuk, Enam Tahanan Masih Buron
• 9 jam lalutvrinews.com
thumb
Kremlin Sebut Prabowo Akan Kunjungi Rusia dan Temui Putin
• 17 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.