Harga minyak acuan dunia naik pada Jumat (10/4). Hal ini terjadi usai Arab Saudi menyatakan kapasitas produksi minyak mereka berkurang akibat serangan Perang Timur Tengah ke infrastruktur energi.
Minyak acuan West Texas Intermediate (WTI) harganya naik 0,7% menjadi US$ 98,53 per barel, sementara minyak Brent naik 1,2% menjadi US$ 95,92 per barel.
Kantor berita resmi Arab Saudi menyebut kapasitas produksi minyak negara tersebut berkurang sekitar 600.000 barel per hari akibat serangan terhadap infrastruktur energi. Menurut perhitungan Bloomberg, angka ini setara dengan sekitar 10% dari ekspor minyak mentah normal Saudi.
Tak hanya produksi, kapasitas aliran harian Arab Saudi melalui stasiun pemompaan yang melayani pipa East-West juga berkurang 700 ribu barel pekan ini. Pipa tersebut digunakan Saudi untuk mengekspor minyak melalui Laut Merah.
“Penurunan aliran pipa East-West melemahkan strategi Arab Saudi untuk menghindari Selat Hormuz dan menyoroti risiko pasokan yang masih berlanjut. Hal ini semakin mempersulit ketersediaan minyak mentah di Asia.” kata analis minyak global di BloombergNEF, Mohith Velamala dikutip dari Bloomberg, Jumat (10/4).
Negara-negara yang sangat bergantung pada pasokan dari Timur Tengah, termasuk Jepang mulai memanfaatkan cadangan minyaknya. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan mereka akan melepas sekitar 20 hari pasokan dari stoknya pada Mei.
Amerika Serikat juga menawarkan hingga 30 juta barel dari Strategic Petroleum Reserve melalui skema pertukaran untuk meredam kenaikan biaya energi akibat gangguan di Timur Tengah.
Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya sangat optimistis terhadap tercapainya kesepakatan dengan Iran, serta menyebut Israel akan menurunkan intensitas serangan terhadap militan Hizbullah yang didukung Teheran di Lebanon.
Kendati demikian, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali menegaskan serangan yang berlangsung tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata AS-Iran. Trump juga mengancam Iran terkait pungutan biaya di Selat Hormuz.
“Ada laporan Iran mengenakan biaya kepada kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz. Mereka seharusnya tidak melakukannya, dan jika benar, mereka harus segera menghentikannya!” tulis Trump di media sosial pada Kamis.
Konflik antara AS dan Iran terus berlanjut meski fokusnya sudah beralih ke Islamabad. Wakil Presiden JD Vance dijadwalkan memimpin delegasi AS dalam pembicaraan dengan pejabat Iran pada Sabtu.
Isu utama adalah terkait Selat Hormuz, yang hampir tertutup sejak akhir Februari dan telah mengganggu sekitar seperlima arus minyak global serta gas alam cair. Kondisi ini memicu guncangan pasokan yang signifikan.
Trump menggambarkan para pemimpin Iran jauh lebih rasional dibandingkan pernyataan publik mereka dalam wawancara telepon dengan NBC News. Namun, pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, dalam pernyataan di Telegram mengatakan Iran pasti akan membawa pengelolaan Selat Hormuz ke tahap baru. Arah pembawaan ini belum jelas, apakah merujuk pada tuntutan lama Iran untuk mempertahankan kendali atas jalur perairan tersebut yang ditolak AS.
“Pasar kembali fokus pada realitas arus pasokan melalui Selat Hormuz, yang masih jauh dari normal dan kecil kemungkinan pulih dengan cepat,” kata trader energi senior di CIBC Private Wealth Group, Rebecca Babin.
Pasar minyak sangat bergejolak sejak perang dimulai. Situasi tersebut memaksa pelaku pasar mengambil posisi lebih kecil dalam jangka waktu lebih singkat karena batas risiko. Harga minyak acuan berfluktuasi rata-rata lebih dari US$ 9 per hari sejak konflik pecah, menjadi pergerakan harian terbesar dalam beberapa tahun terakhir.




