Perempuan di Raja Ampat kini menjadi garda terdepan dalam menjaga keberlanjutan tradisi sasi di wilayahnya. Melalui penguatan kapasitas teknis dan kelembagaan, mereka memastikan praktik konservasi adat tetap relevan dan diakui secara resmi oleh pemerintah.
Sasi merupakan sistem adat pengelolaan sumber daya alam melalui mekanisme buka-tutup akses pada periode tertentu. Tradisi yang umum dijumpai di wilayah Papua dan Maluku ini berfungsi menjaga ekosistem laut sekaligus menopang kesejahteraan masyarakat pesisir.
Manajer Program Kelautan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) Hilda Lionata mengatakan bahwa keberlanjutan sasi di wilayah Raja Ampat, Papua Barat Daya, saat ini salah satunya bergantung pada penguatan legal standing kelompok di mata hukum dan pemerintah.
YKAN mendorong setiap kelompok Sasi perempuan memiliki status hukum resmi di tingkat kampung, mulai dari surat keputusan (SK) desa, NPWP, hingga buku tabungan kelompok. Kelengkapan administrasi ini menjadi syarat mutlak agar masyarakat dapat mengakses bantuan pemerintah secara mandiri di masa depan.
”Kelompok sasi ini harus punya legal standing di kampung. Kami temani prosesnya,” ujar Hilda di sela kegiatan ”Pertukaran Pembelajaran Kelompok Sasi Perempuan dari Tiga Kampung di Kabupaten Raja Ampat”, yang berlangsung di Ubud, Gianyar, Bali, Kamis (9/4/2026). Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada 9-11 April 2026.
Saat ini, YKAN mendampingi tiga kelompok sasi perempuan dari tiga kampung di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya. Ketiga kelompok tersebut yakni Sasi Waifuna dari Kampung Kapatcol, Distrik Misool Barat; Sasi Joom Jak dari Kampung Aduwei, Distrik Misool Utara; serta Sasi Zakan Day dari Kampung Salafen, Distrik Misool Utara.
Pendampingan pertama kali dimulai pada kelompok Sasi Waifuna di Kampung Kapatcol sejak 2008. Para perempuan dilatih menyelam bebas, mengoperasikan perahu, hingga memahami siklus hidup biota laut secara ilmiah. Pengetahuan ini menjadi dasar penentuan waktu pembukaan sasi agar lebih berkelanjutan.
Awalnya, mereka turun ke laut dengan peralatan sederhana, seperti kacamata selam tradisional yang jangkauan pandangnya terbatas sehingga proses pengambilan hasil laut kurang efektif.
Seiring pendampingan, perempuan mulai dilatih menggunakan peralatan yang lebih memadai seperti snorkel dan kaki katak (fin). Meski proses adaptasi tidak selalu mudah, mulai dari kesulitan bernapas hingga keram saat menyelam, kemampuan mereka terus berkembang, termasuk dalam meningkatkan efisiensi dan keselamatan saat bekerja di laut.
Untuk menjamin transfer pengetahuan, kini diterapkan skema training of trainers (ToT). Para perempuan senior dilatih menjadi mentor yang nanti akan menyebarkan ilmu konservasi kepada kelompok laki-laki maupun komunitas berbasis klan di kampung masing-masing.
Tahap awal penguatan kapasitas difokuskan pada internal kelompok perempuan. Namun, ke depan, mereka diharapkan mampu menyebarkan pengetahuan teknis dan konservasi sehingga tercipta kemandirian penuh masyarakat dalam mengelola wilayah ulayat tanpa bergantung kepada pihak luar.
Meski kapasitas teknis kelompok perempuan meningkat, tantangan keberlanjutan sasi tetap ada. Tidak sembarang kelompok bisa dibentuk atau memulai praktik sasi baru.
Hilda mengatakan bahwa keberhasilan sasi sangat bergantung kepada keterlibatan aktif komunitas dan dukungan tokoh adat.
”Biasanya kelompok berbasis proyek sering bubar setelah program selesai. Sebaliknya, kelompok yang dibangun atas nilai sosial dan ikatan komunitas justru lebih kuat dan bertahan lama,” ujarnya.
Selain faktor internal, dukungan eksternal, terutama dari adat, menjadi kunci. Tanpa persetujuan tokoh adat, program sasi tidak dapat dijalankan meski secara ekologis wilayah tersebut ideal.
Bagi kelompok yang sudah ada, tantangannya adalah menjaga kelangsungan praktik sasi, memastikan regenerasi anggota, dan mempertahankan keberlanjutan tradisi ini untuk generasi mendatang.
Bagi Ketua Sasi Waifuna dari Kampung Kapatcol, Almina Kacili (63), sasi bukan sekadar agenda tahunan, melainkan bagian dari upaya menjaga laut sekaligus menopang kehidupan kampung.
Almina berharap praktik sasi tidak berhenti di generasi mereka, tetapi terus dilanjutkan oleh anak muda. Tujuannya agar laut tetap sehat melalui pengambilan yang bijak, dengan dukungan masyarakat, pemerintah, dan adat.
”Sasi bisa melindungi semua biota laut. Tanpa sasi, beberapa spesies bisa punah. Dengan sasi, ikan dan siput di pinggir pantai tetap terjaga,” ujar Almina, Kamis sore.
Meski sasi telah diterapkan secara turun-temurun, sebelumnya praktik ini biasanya dipimpin laki-laki. Budaya patriarki membuat peran perempuan sering terpinggirkan.
”Pada 2008, kami ingin bisa mengelola sasi seperti laki-laki. Dari situlah kelompok Waifuna terbentuk dan kami diizinkan mengelola area seluas 32 hektar,” tutur Almina.
Ketelatenan dan konsistensi Waifuna dalam mengelola sasi membuahkan kepercayaan masyarakat. Manfaatnya dirasakan luas, hingga pada 2019 wilayah kelola mereka diperluas menjadi 213 hektar. Keberhasilan ini juga menginspirasi kampung lain, seperti Aduwei dan Salafen, untuk membentuk kelompok perempuan yang menjalankan sasi.
Biota laut yang ditangkap saat buka sasi antara lain teripang, lobster, dan siput lola. Tahun ini, sasi dibuka pada 9 Februari dan berlangsung sekitar dua minggu.
Sasi bisa melindungi semua biota laut. Tanpa sasi, beberapa spesies bisa punah. Dengan sasi, ikan dan siput di pinggir pantai tetap terjaga.
Praktik penangkapan ikan juga kini tangkap ramah lingkungan seperti pancing dan panah besi, yang bahkan dirakit secara mandiri oleh warga.
Saat ini, praktik penangkapan sudah menggunakan metode ramah lingkungan, seperti pancing dan panah besi, yang bahkan dirakit secara mandiri oleh warga.
Meski praktik sasi berjalan baik, dukungan eksternal tetap dinilai penting, seperti penguatan kelembagaan, perlindungan legalitas wilayah kelola adat, serta akses pada pengetahuan konservasi modern. Langkah ini diperlukan agar sasi tetap relevan dan berkelanjutan di tengah perubahan zaman sekaligus menjamin generasi berikutnya dapat melanjutkan tradisi ini.
Salah satunya adalah Yenni (22), anggota Sasi Waifuna, yang bersemangat melanjutkan tradisi ini. Ia mengaku bangga bisa terlibat dalam pengelolaan sasi dan mulai belajar menyelam sejak dua tahun terakhir.
Di bawah bimbingan Almina, Yenni melihat semakin banyak anak muda di kampungnya yang ikut aktif menjaga laut dan meneruskan praktik sasi.
Sementara itu, Ketua Sasi Joom Jak dari Kampung Aduwei, Ribka Botot (54), menilai kegiatan pertukaran pembelajaran kelompok sasi perempuan sangat penting dan perlu dilakukan secara berkelanjutan.
Menurut dia, forum tersebut menjadi ruang bagi para perempuan dari berbagai kampung untuk saling berbagi pengalaman, tidak hanya di wilayah Papua Barat Daya, tetapi juga dengan daerah lain.
Pertukaran ini dinilai penting untuk memperkenalkan praktik sasi kepada generasi muda sekaligus memotivasi mereka agar ikut terlibat dalam menjaga laut.
Ia mengatakan, melalui pertemuan semacam ini, para anggota kelompok dapat saling belajar, mulai dari cara menjaga ekosistem laut, teknik pengelolaan sasi, hingga keterampilan teknis seperti menyelam dan pengambilan hasil laut secara berkelanjutan.
Sejak didampingi YKAN pada 2022, kelompok Joom Jak Sasi tidak hanya berfokus pada pelestarian sumber daya alam, tetapi juga pada peningkatan ekonomi dan kapasitas sumber daya manusia, khususnya perempuan yang selama ini kerap kurang mendapat ruang dalam struktur masyarakat adat.
Ribka menjelaskan, dengan adanya sasi, mereka bisa memiliki tabungan yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan baik untuk sesama anggota kelompok dan juga bagi masyarakat secara umum.
”Biasanya sebelum buka sasi, kami berdiskusi hasil sasi akan digunakan untuk apa. Bisa untuk keperluan gereja, sampai untuk kebutuhan pendidikan maupun kesehatan masyarakat,” katanya.
Untuk pemasaran, hasil tangkapan biasanya dijual kepada pengepul dengan menggunakan perahu. Sementara itu, di luar masa panen, anggota kelompok secara rutin melakukan penjagaan di wilayah sasi guna mencegah pengambilan ilegal oleh pihak luar.
Upaya penjagaan ini menjadi bagian penting dalam memastikan keberlanjutan praktik sasi agar sumber daya laut tetap terjaga hingga waktu panen tiba.





