Tokyo (ANTARA) - Jepang sedang mempertimbangkan pelepasan minyak tambahan yang setara dengan konsumsi domestik selama 20 hari dari cadangannya pada Mei, karena ketidakpastian masih berlanjut mengenai jalur aman melalui Selat Hormuz, demikian dilaporkan media lokal pada Kamis (9/4).
Pemerintah Jepang memulai pelepasan cadangan minyak terbesarnya pada pertengahan Maret guna memastikan pasokan tetap stabil setelah pecahnya konflik di Timur Tengah pada akhir Februari yang membuat jalur utama pengiriman minyak tersebut sebagian besar ditutup.
Jumlah minyak yang dilepas setara dengan sekitar 50 hari kebutuhan domestik, yang berasal dari cadangan milik negara, sektor swasta serta negara-negara penghasil minyak di kawasan Teluk.
Meskipun Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai gencatan senjata selama dua pekan menjelang tenggat waktu yang ditetapkan sendiri oleh Presiden AS Donald Trump, masih belum pasti apakah pelayaran melalui Selat Hormuz dapat kembali berjalan lancar atau kembali ke kondisi operasional sebelum perang.
Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian Jepang sedang mempertimbangkan pelepasan tambahan di tengah kekhawatiran bahwa penutupan efektif selat tersebut dapat berlangsung lebih lama, lapor Kyodo News dengan mengutip sumber yang mengetahui hal itu.
Jepang yang minim sumber daya bergantung pada Timur Tengah untuk lebih dari 90 persen impor minyak mentahnya. Gangguan pengiriman tersebut telah mendorong kenaikan tajam biaya energi dan biaya lainnya di negara itu.
Pemerintah Jepang memulai pelepasan cadangan minyak terbesarnya pada pertengahan Maret guna memastikan pasokan tetap stabil setelah pecahnya konflik di Timur Tengah pada akhir Februari yang membuat jalur utama pengiriman minyak tersebut sebagian besar ditutup.
Jumlah minyak yang dilepas setara dengan sekitar 50 hari kebutuhan domestik, yang berasal dari cadangan milik negara, sektor swasta serta negara-negara penghasil minyak di kawasan Teluk.
Meskipun Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai gencatan senjata selama dua pekan menjelang tenggat waktu yang ditetapkan sendiri oleh Presiden AS Donald Trump, masih belum pasti apakah pelayaran melalui Selat Hormuz dapat kembali berjalan lancar atau kembali ke kondisi operasional sebelum perang.
Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian Jepang sedang mempertimbangkan pelepasan tambahan di tengah kekhawatiran bahwa penutupan efektif selat tersebut dapat berlangsung lebih lama, lapor Kyodo News dengan mengutip sumber yang mengetahui hal itu.
Jepang yang minim sumber daya bergantung pada Timur Tengah untuk lebih dari 90 persen impor minyak mentahnya. Gangguan pengiriman tersebut telah mendorong kenaikan tajam biaya energi dan biaya lainnya di negara itu.





