Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Tangerang
Kementerian Haji dan Umrah RI terus mendorong percepatan transformasi layanan haji berbasis digital guna meningkatkan kualitas penyelenggaraan ibadah haji. Komitmen tersebut ditegaskan Direktur Jenderal Pelayanan Haji Ian Heriyawan dalam diskusi panel Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Konsolidasi Penyelenggaraan Ibadah Haji 1447 H/2026 M di Asrama Haji Kelas I Tangerang, Kamis, 9 April 2026.
Ian menjelaskan, peningkatan kualitas layanan haji difokuskan pada tiga aspek utama, yakni kecepatan, ketepatan, dan tingkat kepuasan jemaah. Ketiga indikator tersebut menjadi tolok ukur dalam menilai pelayanan yang diterima jemaah dibandingkan dengan harapan mereka.
“Layanan haji harus mengedepankan kecepatan, akurasi, dan kepuasan jemaah sebagai standar utama,”ujar Ian dalam keterangan tertulis, Jumat, 10 April 2026.
Ia menambahkan, berbagai inovasi tengah dikembangkan untuk mempercepat layanan di dalam negeri. Di antaranya melalui digitalisasi layanan akomodasi, penerapan fast track di asrama haji guna mempercepat proses keberangkatan, serta standarisasi konsumsi berbasis produk Nusantara dengan gizi seimbang.
Selain itu, Ditjen Pelayanan Haji juga mempercepat proses pelunasan Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih) reguler melalui verifikasi data yang lebih cepat dan penguatan sistem informasi berbasis digital, seperti website dan notifikasi SMS.
Layanan administratif lainnya, seperti pelimpahan nomor porsi dan pembatalan haji, juga disederhanakan dengan memastikan kepastian waktu serta transparansi informasi bagi jemaah.
Dalam hal pengelolaan data, pemerintah terus meningkatkan akurasi melalui pemutakhiran berkala serta pencegahan duplikasi. Monitoring pengisian kuota haji pun diperkuat agar distribusi kuota berjalan tepat waktu dan berkelanjutan.
“Penyampaian informasi kepada jemaah kini dilakukan secara lebih proaktif, mulai dari notifikasi pelunasan, status layanan, hingga pengembalian dana pembatalan,”jelasnya.
Untuk layanan di luar negeri, Kemenhaj melakukan evaluasi kinerja syarikah di Arab Saudi berbasis teknologi dengan sistem monitoring terintegrasi. Penyediaan akomodasi di Madinah juga dirancang dengan skema kerja sama jangka panjang (multi-year) guna menjamin ketersediaan layanan sekaligus efisiensi biaya.
Sementara itu, layanan konsumsi di Arab Saudi ditingkatkan melalui penyediaan makanan siap saji (ready to eat) serta penggunaan bumbu paste yang tetap menjaga cita rasa khas Indonesia.
Pada sektor haji khusus, Ditjen Pelayanan Haji turut mengembangkan sistem digital untuk layanan administrasi seperti pembatalan porsi, penundaan pelunasan, hingga pembatalan setelah pelunasan.
Sistem pengisian kuota petugas haji khusus juga dilakukan secara digital untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi. Ian menegaskan, seluruh langkah tersebut merupakan bagian dari upaya menghadirkan layanan haji yang lebih cepat, akurat, transparan, dan berorientasi pada kepuasan jemaah.
“Melalui transformasi ini, kami ingin memastikan layanan haji semakin profesional dan memberikan pengalaman terbaik bagi seluruh jemaah,” pungkasnya.
Editor: Redaksi TVRINews





