VIVA –Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, kembali menegaskan bahwa satu-satunya medan pertempuran Iran adalah untuk mempertahankan hak-hak rakyat Iran. Ia menekankan bahwa strategi Iran selalu menggabungkan kekuatan militer dan diplomasi sebagai dua alat penting dalam perjuangan.
Dalam pernyataannya pada Kamis, Qalibaf mengutip nilai-nilai spiritual dan arahan kepemimpinan negara, termasuk gagasan dari Imam Khomeini serta pengorbanan para tokoh yang dianggap syahid, yang menurutnya menjadi teladan dalam menghadapi kesulitan.
“Kemenangan yang kita lihat hari ini bukan hanya hasil dari perlawanan kita, tetapi juga bagian dari takdir Tuhan dan doa para syuhada,” kata Qalibaf dikutip dari laman Pressir.tv, Jumat 10 April 2026.
Ia menyebut bahwa rakyat Iran kini mulai melihat hasil dari kemenangan bersejarah tersebut, yang ditandai dengan mundurnya Presiden AS Donald Trump dari sejumlah kebijakan sebelumnya serta ditinggalkannya beberapa usulan lama oleh Washington.
Menurut Qalibaf, perubahan sikap itu menunjukkan adanya penerimaan tidak langsung terhadap kerangka 10 poin yang diajukan Iran, yang dianggap memuat prinsip-prinsip hak negara tersebut.
“Hari ini kita melihat bagian dari kemenangan itu,” ujarnya, sambil menegaskan bahwa perubahan arah kebijakan AS menjadi titik penting dalam perkembangan situasi.
Ia menyebut hal itu sebagai kemenangan yang tak terbantahkan bagi Republik Islam Iran dalam apa yang ia sebut sebagai perang peradaban, dan mengatakan bahwa posisi Iran kini akan semakin kuat, tidak hanya di kawasan tetapi juga dalam tatanan global yang sedang berubah.
Namun demikian, Qalibaf mengingatkan bahwa semua ini baru langkah awal.
“Kemenangan ini baru permulaan,” katanya.
Ia menegaskan bahwa perjuangan Iran masih jauh dari selesai.
“Kami tidak memisahkan antara militer dan diplomasi. Bagi kami hanya ada satu medan perang, yaitu membela hak-hak Iran. Entah melalui senjata atau diplomasi, kami akan tetap teguh,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa kedua pendekatan tersebut harus berjalan seiring untuk mencapai tujuan strategis negara.
Qalibaf juga menyinggung pengalaman Iran dalam bernegosiasi dengan pihak lawan, terutama Amerika Serikat, yang menurutnya menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap musuh adalah sesuatu yang keliru.





