Gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran diwarnai ketegangan pada Jumat (10/4). Padahal, negosiasi damai dijadwalkan digelar pada Sabtu (11/4) di Pakistan.
Ketegangan itu mencakup tuduhan AS bahwa Iran melanggar janji untuk membuka Selat Hormuz. Di sisi lain, sekutu utama AS, Israel, melancarkan serangan besar-besaran ke Lebanon.
Hingga kini, belum ada tanda-tanda Iran akan mencabut blokade total di Selat Hormuz. Penutupan selat tersebut menyebabkan distribusi energi dunia terganggu.
Iran menyatakan, serangan Israel ke Lebanon menjadi penghambat bagi mereka untuk mencabut blokade di Selat Hormuz.
Adapun Donald Trump, melalui unggahan di media sosial, naik pitam karena Iran tidak membuka blokade Selat Hormuz.
Dalam unggahan terpisah, Trump berjanji aliran minyak akan segera kembali lancar. Namun, ia tidak mengungkapkan langkah konkret yang akan diambil untuk menormalkan kembali pengangkutan minyak.
Sedangkan kenyataan di lapangan berbeda. Dalam 24 jam setelah pengumuman gencatan senjata awal pekan ini, hanya satu kapal tanker produk minyak dan lima kapal pengangkut barang curah kering yang berlayar melalui selat tersebut.
Sementara itu, Israel pada Jumat ini mengumumkan serangan ke 10 titik di Lebanon yang merupakan lokasi peluncuran rudal. Pada malam sebelumnya, rudal-rudal dari Hizbullah ditembakkan ke arah Israel.
Pada Kamis (9/4), Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei menegaskan Iran akan membalas dendam terhadap pihak-pihak yang menyebabkan perang.
“Kami tentu tidak akan membiarkan para agresor kriminal yang menyerang negara kami lolos dari hukuman. Kami pasti akan menuntut ganti rugi atas setiap kerusakan yang ditimbulkan,” kata Mojtaba, seperti dikutip dari Reuters.
Di Pakistan, pemerintah setempat bergerak cepat mempersiapkan negosiasi damai AS-Iran. Perundingan ini bertujuan mengakhiri konflik secara permanen.
Iran mengajukan 10 poin usulan penyelesaian perang. Poin-poin tersebut mencakup mempertahankan kendali atas Selat Hormuz, pengakuan hak Iran untuk pengayaan nuklir, pencabutan sanksi, serta penghentian serangan terhadap Hizbullah di Lebanon.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melalui pernyataan resmi meminta agar kesepakatan damai AS-Iran juga mencakup pelucutan senjata Hizbullah.
“Negosiasi akan fokus pada pelucutan senjata Hizbullah dan membangun hubungan damai antara Israel dan Lebanon,” kata Netanyahu.





