Pantau - Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede memperkirakan nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan akibat ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah meski sempat menguat tipis pada perdagangan Jumat pagi.
Nilai tukar rupiah tercatat menguat 7 poin atau 0,04 persen ke level Rp17.083 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.090 per dolar AS.
Ketegangan Timur Tengah Picu Sentimen Risk-OffPelaku pasar masih mencermati perkembangan situasi di Timur Tengah, terutama meningkatnya ketegangan antara Iran dan Israel.
"Ketegangan meningkat setelah Iran kembali memberlakukan blokade Selat Hormuz, di tengah berlanjutnya operasi militer Israel di Lebanon," ungkap Josua.
Konflik tersebut dipicu serangan besar Israel di Lebanon yang menyebabkan ratusan korban jiwa dan ribuan luka-luka.
Situasi ini memicu kekhawatiran terhadap kelanjutan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai masih rapuh menjelang perundingan damai di Pakistan.
Dampak lanjutan dari konflik tersebut adalah kenaikan harga minyak global yang memperkuat sentimen risk-off di pasar keuangan.
Tekanan Tambahan dari Kebijakan The FedSelain faktor geopolitik, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Maret 2026.
Sejumlah pejabat bank sentral Amerika Serikat mulai membuka peluang pendekatan dua arah dalam kebijakan suku bunga.
Kenaikan suku bunga lanjutan masih mungkin dilakukan apabila inflasi tetap tinggi.
Mayoritas anggota FOMC menilai risiko kenaikan inflasi dan penurunan ketenagakerjaan berada pada level tinggi, terutama dengan meningkatnya tensi geopolitik.
"Konflik yang berkepanjangan di kawasan tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga energi yang lebih persisten, dengan peningkatan biaya input yang dapat menekan inflasi inti," jelasnya.
Berdasarkan berbagai faktor tersebut, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp17.000 hingga Rp17.125 per dolar AS dalam waktu dekat.




